Background

Tuesday, November 11, 2014

Penerapan Classical Conditioning pada Anak

Penerapan Classical Conditioning pada Anak

Latar Belakang
            Kemampuan belajar pada anak seharusnya dilatih sejak dini karena pada usia tersebut anak baru dikenalkan dengan yang namanya sekolah, buku, dan hal lain yang berkaitan dengan pendidikan. Rogers (dikutip dalam Rasyidin, 2007) menyatakan bahwa “Education is related to the change of behaviour” yang berarti proses belajar berperan penting dalam pembentukan perilaku anak. Jika sejak awal orangtua ataupun orang terdekat dari anak dapat mengerti metode belajar yang digunakan oleh anak maka hal ini dapat membantu tumbuh kembang anak. Salah satu metode belajar yang paling mendasar dalam setiap individu adalah classical conditioning. Setelah membaca tulisan ini diharapkan pembaca akan lebih mengerti cara menjaga tumbuh kembang anak dalam hal belajar.

Pengertian Belajar
            Sebelum membahas cara memaksimalkan kemampuan belajar anak, sebaiknya pengertian tentang belajar itu sendiri perlu dibahas terlebih dahulu untuk membantu memahami pembahasan selanjutnya.
     Pengertian menurut KBBI.berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu” (KBBI, 2008).


     Pengertian menurut para ahli. Berikut adalah pengertian belajar menurut beberapa ahli dalam ilmu psikologi.
     Menurut Laura King. “A systematic, relatively permanent change in behaviour that occurs through experience.” (King, 2014, h. 182). Berdasarkan penjelasan ini dapat  dimengerti bahwa pengalaman memegang peran penting dalam proses pembelajaran.
     Menurut Ratna Yudhawati dan Dany Haryanto. “Pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.” (Yudhawati & Haryanto, 2011, h. 14). Jadi, proses belajar merupakan proses yang harus dilakukan dengan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Teori Classical Conditioning.
             Metode belajar merupakan salah satu hal yang paling berpengaruh  dalam proses belajar itu sendiri. Penulisan membahas salah satu metode belajar yang disebut dengan classical conditioning. Metode ini sendiri dijelaskan di dalam buku King (2014, h. 183) “classical conditioning, in which a neutral stimulus (the sound of a toilet flushing) becomes associated with an innately meaningful stimulus (the pain of scalding water)and acquires the capacity to elicit a similar response (panic)”. Hal ini berarti bahwa classical conditioning adalah salah satu metode belajar dengan cara mengondisikan seseorang dengan stimuli tertentu sehingga orang tersebut akan mengasosiasikan stimuli tersebut dengan stimuli lain yang mengakibatkan adanya respon dari orang tersebut.  
            Adapun beberapa istilah yang harus dimengerti sebelum membahas metode ini lebih lanjut adalah: (a) unconditioned stimulus (US), sebuah stimuli yang akan menghasilkan respon tanpa pengondisian; (b) unconditioned response (UR), respon yang dihasilkan secara otomatis terhadap US; (c) neutral stimulus (NS), sebuah stimuli yang tidak menimbulkan reaksi; (d) conditioned stimulus (CS), stimuli yang dulunya adalah NS  yang akhirnya menghasilkan respons setelah pengondisian; (e) conditioned response (CR), reaksi yang dipelajari setelah pengondisian (King 2014).
Ivan Pavlov (dikutip dalam King, 2014) mengemukakan teori dasar dari classical conditioning dan membagi prosesnya menjadi beberapa bagian.
     Acquisition. Proses ini merupakan tahap pertama dalam classical conditioning. Di proses ini subjek akan mempelajari hubungan antara US dengan NS saat dipasangkan. Pada proses ini NS secara terus menerus dipasangkan dengan US dan pada jangka waktu tertentu NS yang dulunya tidak menimbulkan reaksi akan menimbulkan reaksi baru. Setelah adanya reaksi yang terjadi, maka NS berubah menjadi CS. Classical conditioning sendiri adalah salah satu metode yang belajar yang tidak membutuhkan usaha atau bisa dikatakan terjadi secara tidak sadar.
            Contoh penerapan classical conditioning pada anak adalah pada malam hari sebelum anak tidur, lampu kamar dimatikan (US) dan anak akan merasa ngantuk (UR). Jika sebelum lampu dimatikan, anak diberi musik untuk didengarkan (NS) maka setelah beberapa lama akan terjadi proses acquisition. Anak yang awalnya mengantuk (UR) hanya saat lampu dimatikan (US) jika terus menerus dipasangkan dengan musik lama kelamaan anak akan mengantuk jika mendengarkan musik meskipun lampu belum dimatikan (CR). Pada kondisi ini musik yang dulunya merupakan NS telah berubah menjadi CS.
     Extinction. Jika acquisition adalah proses belajar dari classical conditioning maka pada tahap extinction ini kita dapat menghilangkan atau mengurangi reaksi anak terhadap suatu stimuli yang tidak kita inginkan. Proses ini dapat terjadi karena dimunculkannya CS tanpa diikuti oleh US. Tidak adanya US setelah dimunculkannya CS membuat CS kehilangan kekuatan untuk memunculkan CR.
            Misalnya kebiasaan anak tadi yang akan mengantuk jika mendengar musik mulai mengganggu karena mungkin anak dapat mengantuk di mana saja. Oleh karena itu pada malam hari dapat dilakukan proses extinction dengan cara memunculkan CS yaitu musik tanpa diikuti oleh US yaitu mematikan lampu. Setelah proses ini dilakukan maka kekuatan dari CS akan berkurang secara berkala karena tidak adanya US yang mengikuti.
     Spontaneous recovery. Meskipun kekuatan dari CS dapat dikurangi dengan proses extinction, namun itu bukan merupakan akhir dari CR. Jika subjek diberi waktu istirahat tanpa adanya pengondisian lebih lanjut dan suatu saat muncul CS yang dulu pernah dikondisikan maka akan terjadi CR kembali. Hal ini terjadi karena ingatan akan asosiasi CS dengan CR masih berbekas di dalam otak.
            Misalnya anak yang tadi telah melewati proses extinction diberi jeda waktu tanpa adanya pengondisian lebih lanjut, namun suatu saat ia diberi musik kembali pada malam hari. Hal ini akan membuat anak tersebut melakukan proses mengingat kembali asosiasi antara CS dengan CR dan dapat merasa ngantuk kembali.

Simpulan
            Classical conditioning merupakan metode belajar yang terjadi dengan sendirinya tanpa adanya usaha dari individu itu sendiri. Pada dasarnya classical conditioning adalah metode belajar yang memfokuskan pada kebiasaan sehari-hari dari individu. Setelah mengerti cara kerja dari metode classical conditioning             kebiasaan yang dilakukan setiap hari dapat diperbaiki atau dimaksimalkan. Hal ini menjadi penting karena kebiasaan belajar dapat mempengaruhi kepribadian anak. Cloninger mengatakan “Personality may be defined as the underlying causes within the person of individual behaviour and experience” (1996, h.3). Jadi, pengalaman yang dialami sejak usia dini sangat berpengaruh terhadap apa yang dipelajari oleh anak dan pada akhirnya membentuk kepribadian anak tersebut.



Cloninger, S. C. (1996). Theories of personality: Understanding persons (2nd ed.). Upper Saddle River, NJ: Prentice-Hall.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2014). Diunduh dari http://kbbi.web.id/index.php?w=belajar pada 10 November 2014.

King, L. (2014). The science of psychology: An appreciative view. New York, NY: McGraw-Hill.

Rasyidin, W. (2007). Ilmu dan aplikasi pendidikan: Ilmu pendidikan teoretis. Bandung, Indonesia: IMTIMA.


Yudhawati, R., & Haryanto, D. (2011). Teori – teori dasar psikologi pendidikan. Dalam S. Amri (Ed.). Jakarta: Prestasi pustakaraya.

Wednesday, November 5, 2014

Latihan 17 Michael 705140010

Hubungan Kepribadian terhadap Kinerja di dalam Organisasi
Pengertian Kepribadian
     Pengertian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. “Sifat hakiki yg tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yg membedakannya dari orang atau bangsa lain” (KBBI, 2008). Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang membedakan seseorang dengan orang lain bukan hanya penampilan fisik saja tetapi juga kepribadiannya. Bahkan orang yang kembar sekalipun dapat memiliki kepribadian yang membedakan mereka.
     Pengertian menurut ahli.
     Menurut Laura King. Di dalam bukunya King (2014) mengatakan “Personality is a pattern of enduring, distinctive thoughts, emotions, and behaviours that characterize the way individual adapts to the world” (h. 396). Ia berpendapat bahwa cara kita beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungan sebagian besar dipengaruhi oleh kepribadian kita.
     Menurut Susan C. Cloninger. “Personality may be defined as the underlying causes within the person of individual behaviour and experience” (Cloninger, 1996, h. 3). Jadi, segala hal yang mendasari pengalaman kita pada dasarnya adalah kepribadian.

Sunday, October 5, 2014

Pertemuan ke 10 (3 Oktober 2014)

Hallo, para pembaca setia saya. Kali ini saya kembali ingin membagikan materi yang saya dapatkan di pertemuan ke 10 dari blok filsafat saya ini. Semakin hari, blok filsafat semakin mendekati akhirnya. Saya juga menjadi semakin semangat untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan agar bisa meraih nilai yang maksimal pada akhir blok nanti.

Untuk materi pembahasan saya kali ini sebenarnya cukup rumit. Karena materi ini juga sulit saya pahami. Namun, setelah mencoba untuk memahami dan membaca materi ini berkali-kali. Saya akhirnya mampu mendapat inti dari materi ini. Penasaran? Materi yang akan saya bahas adalah “Eksistensialisme”

Eksistensialisme

                Eksistensialisme adalah sebuah cabang ilmu filsafat yang mempelajari manusia sebagai makhluk yang konkret. Jika selama ini semua pembahasan filsafat yang saya lakukan bersifat abstrak, maka eksistensialisme adalah sebuah cabang filsafat yang sebaliknya, mempelajari dan memahami manusia sebagai makhluk yang konkret.

                Prinsip dasar di dalam eksistensialisme adalah filsafat hrs bertitik tolak pd manusia konkrit, manusia sbg eksistensi, maka bagi manusia eksistensi mendahului esensi. Artinya, eksistensi dulu barulah ada esensi. Selain prinsip eksistensialisme juga memiliki cirri-ciri, yaitu;

       Motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi.
       Bereksistensi hrs diartikan scr dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan diri scr aktif, berbuat, menjadi, merencanakan.
       Manusia dipandang terbuka, belum selesai. Manusia terikat pd dunia sekitarnya, khususnya pd sesamanya.
       Memberi penekanan pd pengalaman konkrit.

Untuk eksistensialisme sendiri, ada 2 tokoh terkenal yang berpengaruh besar pada aliran ini. Kedua tokoh ini adalah “Kierkegaard” dan juga “Paul Jean Satre”.

Paul Jean Satre

}  Lahir di Paris 1905
}  1929 menjadi guru
}  1931-36 dosen filsafat di Le Havre
}  1941 menjadi tawanan perang
}  1942-44 dosen Loycee Pasteur
}  Banyak menulis karya filsafat dan sastra. Dipengaruhi oleh Husserl dan Heidegger.






                                                    

Soren Kierkegaard

 

       Soren Aabye Kierkegaard lahir di Kopenhagen, Denmark 15 Mei 1813. Belajar teologi di Univ. Kopenhagen, tp tdk selesai. Saat 3 saudara, ayah dan ibunya meninggal ia mengalami krisis.
       Sempat menjauh dr temannya dan agama.
       Sempat bertunangan dg Regina Olsen, tp tdk jadi menikah.
       1849 kembali lagi ke agamanya (Kristen).
       Meninggal 1855 sbg org religius dan dipandang sbg tokoh di gerejanya.
       Dia dikenal sbg bapa eksistensialisme, aliran filsafat yg berkembang 50 thn setelah kematiannya.


Pertemuan ke 9 (2 Oktober 2014) "Field trip"

Hi, Everyone!!! It's Michael again! hahahaha Teman-teman ku yang baik hatinya... Postingan kali ini sakan benar-benar berbeda dari postingan-postingan sebelumnya, karena kali ini saya bukan hanya akan membahas soal materi perkuliahan saya, tetapi saya juga akan menunjukkan kegiatan saya selama pertemuan kali ini.

Jadi, untuk pertemuan pertama setelah libur beberapa hari ini, saya dan teman-teman besertas tim dosen melakukan kegiatan Field Trip ke "Kampung Betawi". Disana kita para mahasiswa/i mendapat tugas untuk melakukan pengamatan tentang Kebudayaan dan Etos kerja yang ada disana. Tentunya untuk lebih tau tentang hal itu kami melakukan wawancara ke berbagai narasumber.


 Ini adalah Foto-foto kelompok kami (Descartes Duro) dengan para narasumber yang kami wawancarai. 



Ini adalah pengarahan dari Paradosen sebelum melakukan Kegiatan di Kampung Betawi. sebelum memulai kita semua dibberi pengarahan agar tidak ada yang salah mengerjakan instruksi yang diberikan.





 Kelompok kami menyelesaikan tugas lebih awal dari waktu yang ditentukan. Oleh karena itu kami menikmati fasilitas dan makanan-makanan yang ada di kampung betawi. Perjalanan dan tugas yang melelahkan pun terbayar karena asiknya jalan-jalan hahahaha

Dari Field trip yang saya lakukan kali ini... saya mendapat banyak pelajaran, bukan hanya materi tetapi juga pelajaran hidup dari narasumber-narasumber yang saya wawancarai.Pengalaman ini sangat menyenangkan karena saya dapat mempelajari banyak hal baru yang akan sangat berguna, saya belajar bagaimana cara mewawancarai narasumber tanpa membuat orang yang saya wawancarai menjadi tidak nyaman. Selain itu saya juga dapat melihat banyak kebudayaan betawi yang selama ini jarang ditemukan di daerah kota. Namun, yang paling penting yang saya pelajari selama field trip adalah, pengalaman hidup dari setiap narasumber saya. Di sana saya menemukan banyak sekali orang-orang yang memiliki motivasi hidup yang sangat mulia, akan tetapi tidak memiliki kekuatan financial seperti yang saya miliki. Oleh karena itu, saya belajar untuk lebih bersyukur di dalam hidup.

Pertemuan ke 8 (27 September 2014)

Hello, kali ini saya kembali lagi dengan materi baru yang tentunya tidak akan membosankan. Pada pertemuan ke 8 ini di mata kuliah filsafat, saya akhirnya menemukan sebuah materi yang benar-benar saya sukai. Materi itu lah yang akan saya bagikan pada postingan kali ini. Saya jamin kalian tidak akan bosan saat membacanya.

Penasaran apa yang akan saya bagikan kali ini? Materi yang akan saya bahas kali ini adalah mengenai “Afektifitas” mungkin kata ini akan sangat asing bagi kalian yang baru pertama kali mendengarnya. Afektivitas merupakan kata lain dari Perasaan. Saya sendiri sudah pernah membahas tentang afektifitas sedikit pada blok pengantar psikologi yang lalu. Tapi, tentu akan membosankan kalau saya hanya membahas tentang perasaan saja. Oleh karena itu, saya akan membahas afektifitas dengan cara yang sedikit berbeda. Saya akan menjelaskan Afektifitas dengan mengaitkannya di dalam keluarga. Semua org tentu punya keluarga, maka materi ini akan lebih mudah dimengerti.

Afektifitas di dalam keluarga
 Family_Portrait
Untuk membahas pembangunan afektifitas di dalam keluarga, kita harus membahas “apa itu afektif?” Terlebih dahulu. Hali ini ditujukan agar pemaparan penulis selanjutnya dapat dimengerti dengan tepat dan tidak terjadi kesalahpahaman dalam pembahasan selanjutnya.

                Jadi apa sebenarnya yang dimaksud dengan afektivitas? Afektivitas dapat dikatakan sebagai “perasaan” atau “emosi” yang dimiliki oleh manusia. Jika ada hal yang membedakan manusia dengan binatang ataupun tumbuhan, maka hal tersebut adalah “Afektifitas”. Karena manusia memiliki afektifitas lah makanya manusia dapat merespon atau merasa tertarik kepada sesuatu. Pada dasarnya semua respon manusia itu tergantung pada afektifitas dari diri manusia itu sendiri. Misalnya: Ketika ada pasangan yang sedang menonton film, reaksi dari dua orang yang merupakan pasangan itu pun dapat berbeda. Mungkin si wanita akan menyukai film yang ditonton karena film tersebut romantis, namun, si laki-laki dapat tidak menyukai film tersebut karena menurut si laki-laki film itu membosankan. Seperti itulah afektifitas mempengaruhi respon atau tindakan kita terhadap sesuatu. Karena kita tidak hanya mengenal, melainkan juga merasa, jadi kita tidak hanya mengenal film apa yang kita tonton, akan tetapi juga apa yang kita dapat rasakan dari film tersebut. Jika kita tidak memiliki afektifitas, maka kita hanya akan memantulkan apa yang kita alami di dunia layaknya sebuah cermin.

                Di dalam keluarga, afektifitas berperan penting karena setiap anggota keluarga mungkin dapat memiliki perasaan yang berbeda terhadap sesuatu yang dilakukan oleh seorang anggota keluarga. Penting bagi kita untuk dapat memahami afektifitas dari setiap anggota keluarga kita, karena setiap anggota keluarga pasti memiliki afektifitas mereka masing-masing, dengan begitulah kita dapat saling mengerti dan akhirnya menjadi dekat dengan keluarga kita.

                Afektifitas dari setiap orang bahkan anggota keluarga pun dapat berbeda, namun hal itu tidak menandakan bahwa kita tidak bisa membangun sebuah afektifitas yang dapat membangun kedekatan antar anggota keluarga. Setiap keluarga dapat membangun afektifitas antar anggota keluarga sehingga anggota keluarga dapat merasa nyaman dengan satu sama lain. Jadi, afektifitas setiap anggota mungkin berbeda-beda akan suatu hal, namun, jika dilakukan dengan tepat kita dapat membangun sebuah ke intiman di dalam keluarga yang dapat membangun sebuah afektifitas yang diinginkan di dalam keluarga.

                Penting untuk kita ketahui bahwa, afektifitas sendiri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu “Afektifitas Positif” dan “Afektifitas Negatif”. Yang ingin kita bangun di dalam keluarga tentu adalah afektifitas positif yang akan membantu kita berinteraksi dengan baik di dalam keluarga. Tapi, bagaimana cara membedakan afektifitas positif dan negatif? Hal tersebut akan dijelaskan dengan menggunakan teori Louis Leahy yang terdapat di dalam bukunya yang berjudul “Manusia Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis tentang Makhluk Paradoksal” yaitu; afektifitas sebenarnya berputar pada dua kutub yang saling berlawanan yaitu; “Cinta” dan “Benci”. Jadi, pada dasarnya afektifitas kita hanya memiliki dua kemungkinan yaitu afektifitas yang mendekati rasa cinta atau afektifitas yang mendekati rasa benci. Cinta dan apa yang diakibatkan oleh cinta dapat dikatakan sebagai afektifitas positif. Begitu juga dengan benci dan apa yang diakibatkan olehnya dapat dikatakan sebagai afektifitas negatif. Oleh karena itu, ada baiknya setiap kita ingin melakukan sesuatu di dalam keluarga perlu kita cermati apakah tindakan tersebut didasari oleh cinta atau benci?

                Satu hal yang juga penting kita ketahui adalah bahwa manusia sebagai makhluk yang memilki kedua kutub bertentangan ini sebenarnya lebih cenderung untuk mencintai karena cintalah yang lebih dasariah. Hal ini juga pernah dikatakan oleh seorang tokoh dunia yaitu Nelson Mandela. Beliau mengatakan “No one is born hating another person because of the colour of his skin, or his background, or his religion. People must learn to hate and if they can learm to hate, they can be thaught to love, for love comes more naturally to the human heart than it’s opposite”. Pendapat Nelson Mandela ini juga di dukung oleh Louis Leahy yang mengatakan bahwa orang hanya membenci sesuatu atau seseorang sejauh hal itu atau orang itu tampak sebagai sesuatu yang buruk (suatu ancaman, penghalang, atau bahaya) bagi apa yang dicintai. Jadi, pada hakikatnya cintalah yang terdapat pada asal mula dari segala hidup afektif, sekurang-kurangnya rasa cinta akan diri sendiri. Oleh sebab itu, di keluarga kita sebenarnya lebihcenderung untuk saling mencintai, hanya kita perlu memperhatikan bagaimana cara kita mengekspresikan rasa cinta tersebut, dan juga memahami hal-hal apa yang dicintai oleh setiap anggota keluarga dan berusaha untuk tidak menjadi penghalang bagi hal yang mereka cintai tersebut.

                Berbagai hal mengenai afektifitas tersebut akan membantu kita untuk memahami permasalahan yang terjadi di dalam keluarga. Pada dasarnya keluarga adalah tempat untuk memperoleh dukungan dalam situasi-situasi yang berat. Jadi, sebagai salah satu anggota keluarga setiap individu harus mampu membangun afektifitas yang positif terhadap anggota keluarga yang lainnya.

Nah, saya kira penjelasan saya mengenai afektifitas sudah sangat jelas. Afektifitas merupakan hal yang sangat penting bagi kita jika kita ingin berinteraksi dengan orang lain dan manusia tentu perlu berinteraksi dengan orang lain. Jadi, marilah kita mulai membangun afektifitas yang positif dengan orang lain, dimulai dari keluarga kita sendiri.


#Quote: Do everything with love, because love will comes back to you.

Pertemuan ke 7 (25 September 2014)

Hai haaaaaiii, saya kembali lagi dengan postingan baru tentunya! Postingan saya kali ini juga tentunya berkaitan dengan studi yang sedang saya lakukan yaitu “Filsafat”. Setelah melewati beberapa minggu dalam blok filsaat ini, saya mulai mendapatkan berbagai pelajaran berharga yang dapat saya kait kan dengan kehidupan sehari-hari. Lihat saja postingan-postingan saya sebelumnya tentang cara berpikir, metode berfilsafat, dll. Hampir semua hal yang saya pelajari dapat dikaitkan dengan kehidupan kita sehari-hari.

Nah, untuk postingan saya kali ini, saya akan membagikan materi dengan judul “Badan dan Jiwa”. Di pertemuan badan dan jiwa ini saya mengerti bahwa manusia terdiri dari 2 unsur penting yaitu; Badan dan juga Jiwa. Kedua unsure ini saling melengkapi dan dengan gabungan keduanya lah akan terbentuk manusia seutuhnya. Untuk membahas badan dan jiwa lebih lanjut saya akan memaparkan dua paham yang membahas tentang badan dan jiwa.

Monisme
 
                Paham yang pertama mengenai badan dan jiwa adalah paham  yang dinamakan “Monisme”. Para penganut paham ini meyakini bahwa  Badan dan Jiwa bukanlah unsure yang terpisah, melainkan sebuah substansi utuh yang membentuk pribadi manusia. Jadi, badan dan jiwa pada dasarnya tidak dapat dipisahkan. Begitulah pendapat para penganut monisme ini. Di dalam paham ini sendiri masih terdapat 3 aliran berbeda, yaitu;

Materialisme: menempatkan materi sbg dasar bagi sgala hal yg ada (fisikalisme). Manusia juga bersumber pd materi. Manusia tdk pernah melampaui potensi jasmaninya. Jiwa tdk punya eksistensi sendiri.

Identitas: menekankan hal berbeda dr materialisme, tp mengakui aktivitas mental manusia. Ini menjadi ciri khas manusia. Letak perbedaan jiwa dan badan hanya pd arti bukan referensi.

Idealisme: ada hal yg tdk dpt diterangkan semata berdasarkan materi, spt pengalaman, nilai dan makna. Itu hanya punya arti bila dihubungkan dg sesuatu yg imaterial yaitu jiwa.

                Namun, tidak usah bingung karena pada dasarnya ketiga aliran itu masih sama-sama meyakini bahwa badan dan jiwa adalah unsure yang tidak terpisahkan. Hanya saja cara berpikir dan penalarannya saja yang berbeda dari ketiga aliran tersebut.

Dualisme
 
                Kalau sudah mengerti soal Monisme, maka untuk memahami dualism juga akan lebih mudah, karena Dualisme merupakan sebuah paham yang benar-benar berlawanan dari paham monisme. Jika monism mempercayai bahwa badan dan jiwa adalah satu kesatuan substansi yang membentuk manusia sutuhnya, maka Dualisme meyakini bahwa badan dan jiwa adalah dua elemen yang berbeda, dan perbedaan keduanya tersebut ada pada pengertian dan objeknya. Di dalam dualisme, juga terdapat beberapa aliran, antara lain;

Interaksionisme: fokus pd hubungan timbal balik antara badan dan jiwa. Peristiwa mental bs menyebabkan peristiwa badani dan sebaliknya

Okkasionalisme: memasukkan dimensi ilahi dlm membicarakan hub badan dan jiwa. Hub peristiwa mental dan fisik bisa terjadi dengan campur tangan ilahi

Paralelisme: sistem kejadian ragawi terdapat di alam, sedangkan sistem kejadian kejiwaan ada pd jiwa manusia. Dlm diri manusia ada dua peristiwa yg berjalan seiring yaitu peristiwa mental dan fisik, namun satu tdk jd sumber bagi lainnya.

Epifenomenalisme: melihat hub jiwa dan badan dari fungsi syaraf. Satu2nya unsur utk menyelidiki proses kejiwaan adalah syaraf.

Jadi kesimpulannya adalah Realitas manusiawi merupakan realitas prinsipial terbentuk dr dua elemen, yaitu material dan spiritual. Badan dan jiwa = satu kesatuan yg membentuk eksitensi manusia. Jiwa tdk bs berfungsi baik  kalau tdk ada badan. Badan manusia bukan mekanistik, tapi dinamika dari jiwa itu sendiri.

Nah, Sudah mengerti tentang badan dan jiwa? Agak rumit sih… tapi jika dicermati sebenarnya tidak sesulit itu kok. Hahaha

#Quote: If the mind can heal the body, but the body can’t heal mind. Then the mind must be stronger than the body.


Friday, September 26, 2014

Apakah Manusia itu Bebas?

Teman-teman sekalian, dalam pertemuan pada tanggal 26 september 2014 yang lalu, saya bertemu lagi dengan dosen asik yang namanya ada lah Bapak Bonar Hutapea. Beliau mengajarkan saya tentang arti kebebasan, dan bagaimana pendapat kita tentang bebas itu? Dalam penyampaiannya beliau selalu member kesempatan bagi kami untuk memberi pendapat dan tentunya bertanya apa yang kurang jelas.

Di akhir pertemuan beliau meminta kita untuk memberi pendapat dan pandangan masing-masih terhadap pertanyaan “Apakah Manusia itu bebas?” Jadi, berikut ini akan saya beri tahu apa yang menjadi pandangan saya tentang kebebasan manusia.

                Selama ini selalu menjadi perdebatan “Apakah sesungguhnya manusia itu bebas?” ada yang mengatakan bahwa manusia selalu bebas karena bagaimana pun ia dapat menentukan nasibnya sendiri. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa manusia itu senantisasa terikat dan tidak sepenuhnya bebas. Saya sendiri berpendapat bahwa, Manusia sesungguhnya bebas di dalam sebuah batasan.

                Yang saya maksudkan dengan Bebas di dalam sebuah batasan adalah, manusia tidak sepenuhnya terikat, namun juga tidak sepenuhnya bebas. Sampai pada tingkatan tertentu manusia bebas, dan sampai pada tingkatan tertentu manusia itu terikat. Mungkin kita bisa mengatakan bahwa tidak ada yang mampu memaksa manusia melakukan sesuatu, oleh karena itu maka manusia itu bebas. Tetapi, pada kenyataannya kita semua dikelilingi oleh sebuah batasa, baik berupa hokum, norma, atau pun adat isitadat yang berlaku pada masyarakat.


                Nah,Oleh sebab itu lah, bagi saya Manusia tidak sepenuhnya bebas karena selalu ada batasan bagi manusia itu sendiri, baik yang dibuat oleh manusia ataupun yang telah ditetapkan oleh alam, ataupun yang sudah diperintahkan oleh Yang Maha Kuasa.

Pertemuan ke 6 (23 September 2014)

Hallo Semua, Saya kembali lagi dengan postingan yang baru dan kali ini saya juga akan membagikan materi yang saya dapatkan di blok filsafat ini. Pertemuan yang ke 6 ini saya dan teman-teman mempelajari sesuatu yang tentunya sangat menarik. Tentu materi kali ini juga sangat umum dan sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Materi yang dibahas adalah masalah “Etika dan Moral” sangat umum bukan? Kita selalu bertindak sesuai dengan etika dan moral yang menurut kita benar setiap harinya. Nah, hari ini saya mempelajari apa sih itu etika dan moral yang baik itu seperti apa? Dan masih banyak hal lainnya. Tanpa perlu basa-basi lagi, ini lah materi yang akan saya bagikan.


Tuesday, September 23, 2014

Pertemuan ke 5 (22 September 2014)

Guys!!! Saya kembali lagi dengan postingan baru! Hahaha seperti biasa, saya akan membagikan pengetahuan yang saya dapatkan pada kelas Filsafat kali ini. Di pertemuan kali ini, saya mendapatkan kesan yang sangat menarik karena semua materi yang diberikan dapat dijelaskan dengan praktis sehingga saya dan teman-teman dapat mengerti apa yang diajarkan dengan lebih cepat dan tepat. Oleh karena itu, saya akan mencoba menjelaskan materi kali ini lengkap dengan berbagai contoh yang saya buat sendiri. J

Nah, untukk materinya sendiri, kali ini kami kembali belajar soal bagian dari logika yaitu; “Silogisme”, dan “Kesesatan/Fallacia”. Mungkin bagi kalian yang baru pertama kali membaca istilah ini akan bingung dengan apa yang dimaksud dengan Silogisme dan juga Fallacia. Tapi, tenang saja, setelah kalian membaca tulisan saya ini, saya yakin kalian akan mampu mengerti apa yang dimaksud oleh kedua kata tersebut dan mampu membuat contoh-contohnya sendiri juga.

Sunday, September 21, 2014

Pertemuan ke 4 (19 September 2014)

Hi Guys, seperti biasa saya akan membagikan ilmu yang saya dapatkan di kelas Filsafat hari ini. Pada pertemuan kali ini saya dan teman-teman mempelajari banyak sekali hal-hal penting dalam hidup karena kelas kami yang seharusnya 2 sesi, di tambah menjadi 4 sesi. Oleh karena itu lah kami mendapatkan sangat anyak ilmu dalam waktu bersamaan.

Pertemuan kali ini kami membahas tentang yang namanya “Logika” lalu kami juga membahas tentang cara pandang “Subyektivisme” dan “Obyektivisme” belum selesai sampai disitu, kami juga mempelajari yang namanya “Critical Thinking”. Semua ini akan saya coba bahas satu persatu agar kita dapat memahami dan menggunakannya di dalam kehidupan sehari-hari kita.


Friday, September 19, 2014

Pertemuan ke 3 (Contoh Kasus 2)

Hallo Semua, saya kembali lagi dengan postingan saya yang baru namun masih akan membahas soal “Kebenaran” dan Metode-metode serta Teori-teorinya. Bila pada postingan sebelumnya saya telah memberikan salah satu contoh kasus untuk memperjelas penjalasan saya tentang materi tanggal 18 Sepetember 2014 ini, maka sekarang saya akan kembali member sebuah contoh kasus yang mungkin akan lebih membantu kita untuk mengerti materi ini.

Contoh kasus seperti ini bagi saya sangat penting karena tanpa adanya contoh-contoh yang konkret seperti ini, maka kita akan sulit memahami apa yang dimaksud oleh suatu teori. Nah, untuk  contoh kasus kali ini, temanya adalah:

Contoh Kasus Pertemuan ke-3 Versi 2
Pergaulan Bebas, Boleh atau Tidak?

 

Thursday, September 18, 2014

Pertemuan ke 3 (Contoh Kasus 1)

Hai Semua, seperti yang saya janjikan pada postingan sebelumnya, saya akan membantu teman-teman semua untuk dapat lebih mengerti tentang Metode dan teori kebenaran melalui contoh kasus yang mungkin akan lebih gampang ditangkap dan dipahami oleh semua orang. Nah, untuk contoh kasusnya sendiri tentu bukan contoh kasus yang asing bagi kita semua, contoh kasus ini sangat up to date dan sedang banyak menjadi bahan pembicaraan dimana-mana. Jadi, Silahkan dibaca ya guys! ;)


Contoh Kasus Pertemuan ke-3
(Pilkada Langsung Vs. Pilkada TIdak Langsung)
                                           

Pertemuan 3 (18 September 2014)

Hey there everyone!

Hari ini adalah pertemuan ke-3 saya dalam blok filsafat dan saya mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan yang saya rasa akan berguna bagi saya kedepannya. Seperti biasa, materi hari ini juga tidak dapat dibilang mudah untuk dicerna, tetapi juga bukan tidak mungkin untuk dapat dimengerti. Dosen yang mengajar hari ini juga tidak membosankan sehingga saya mampu mengikuti pelajaran tanpa tertidur di dalam kelas. Hahahaha

Materi yang dibahas di pertemuan ke-3 ini adalah berupa pembahasan yang lebih mendalam mengenai apa itu “Kebenaran” dan juga “Pendekatan-pendekatan” yang kita gunakan untuk memperoleh suatu kebenaran. Selain itu, saya juga mempelajari satu lagi pencabangan dari ilmu filsafat yaitu; Epistemologi

Sepanjang hidup kita, kita tentu ingin mencari dan melakukan hal-hal yang benar menurut kita. Oleh karena itu lah, pelajaran hari ini benar-benar penting bagi saya karena dengan mengerti lebih jauh tentang apa itu Kebenara, maka saya juga kan lebih mengerti tentang apa yang seharusnya dan tidak seharusnya saya lakukan. Tapi, pertanyaannya adalah, apakah sebenarnya kebenaran itu? Dan bagaimana cara kita tahu mana yang benar dan mana yang tidak?
Pertanyaan-pertanyaan itu telah dijawab dengan penjelasan dari dosen saya tadi.

Nah, sekarang saya akan membagikan sedikit dari apa yang berhasil saya pahami mengenai pelajaran hari ini. Yang pertama adalah salah satu cabang dari ilmu Filsafat yaitu;


Pertemuan 2 (16 September 2014)

Hello guys!
Setelah postingan tugas pertama saya yang telah saya bagikan ke kalian semua kemarin, hari ini saya kembali mengikuti mata kuliah “Filsafat” dan belajar beberapa hal baru. Jadi, sekarang saya akan membagikan sedikit tentang apa yang saya dapatkan dari materi pelajaran tanggal 16 September 2014 atau bias dibilang pertemuan kedua dalam Blok Filsafat.
Hari ini saya belajar sedikit tentang “Pencabangan Filsafat” diantaranya yaitu; Aksiologi danMetafisika.
Pada awalnya saya sedikit bingung karena sepanjang yang saya ketahui Filsafat itu sendiri merupakan sebuah ilmu yang mencakup keseluruhan ilmu yang ada di dunia. Tetapi, kenapaFilsafat dibagi lagi?
Ternyata, jawaban dari pertanyaan saya tersebut adalah: Karena terlalu luasnya cakupan filsafat, sehingga jika filsafat dipertahankan sebagai satu ilmu tanpa adanya pencabangan, orang yang mempelajari filsafat akan kesulitan karena luasnya cakupan Filsafat itu sendiri. Oleh karena itulah, filsafat perlu dicabangkan menjadi ilmu-ilmu yang lebih kecil cakupannya. Dan, pencabangan yang hari ini saya pelajari adalah:

Pertemuan 1 (15 September 2014)

As I said… there will be a lot of stuff coming soon and this is one of it… HAhahaha
Tugas pertama di Blok Filsafat, yaitu membuat rangkuman tentang Materi tanggal 15 September 2014, dan Memaparkan apa saja yang saya dapatkan pada pertemuan pertama ini.
Jadi, kalau berbicara tentang apa yang saya dapatkan pada pertemuan pertama ini… maka saya harus jujur bahwa blok kedua ini yaitu blok filsafat tidak begitu jelas pemaparan materinya dibandingkan dengan blok pertama, mungkin karena adanya ketidaksamaan materi dari buku pegangan dengan PPT yang digunakan dosen. Tetapi, mungkin seiring berjalannya waktu saya akan bisa terbiasa. #Kenapa Jadi Curhat?
Pada pertemuan pertama ini yang saya benar-benar dapatkan adalah sebuah pemahaman bahwa “Filsafat” itu merupakan suatu bidang keilmuan yang sangat luas cakupannya sehingga dapat disebut sebagai “Induk” dari ilmu-ilmu lainnya. Pengertian ini sangat berguna untuk pemahaman lebih lanjut dalam blok filsafat ini nantinya. Selain, pemahaman itu, saya juga mendapatkan sejarah singkat tentang lahirnya filsafat dan tokoh-tokoh penting dalam sejarah perkembangan filsafat yang ternyata sebagian besar adalah tokoh-tokoh yang sudah pernah saya pelajari di blok sebelumnya.
Saya kira itu adalah semua yang saya dapatkan dalam petemuan pertama blok filsafat ini. Semoga kedepannya saya mampu mengikuti pelajaran dengan lebih baik dan mampu mengerti apa yang disampaikan dosen dengan baik.
Berikut adalah Rangkuman untuk Materi tanggal 15 September 2014
Apakah itu Filsafat?

Who am I?

Hi, guys… I’m Michael an ordinary 18 years old boy with a lot of Dreams to achieve. I’m currently studying at “Universitas Tarumanagara” or commonly known as UNTAR. My Student Number is 705140010

This is my new blog and I make this blog due to my Phylosophy class’s assignment. So, we’re assigned to make a blog and daily update our blog with the activities that we will be doing during the Phylosophy Class. I have some experience of blogging back in the past, but, I never really have a “Daily Updated” blog. So, this is my first time making a blog that will be “Daily” updated.
There’ll be more post coming since we will be having a lot of stuff to do – or to be exact “ASSIGNMENTS” – so, I’ll be posting all the assignments that we have, maybe sometimes I can post about my story with my friends, or any other things that happen in my day! This will of course be a great story of my life, and I will share my awesome life with you guys!
So, Stay tuned!



#Quote: Everyone always have something to be grateful of… Everyday.