Hallo, para pembaca
setia saya. Kali ini saya kembali ingin membagikan materi yang saya dapatkan di
pertemuan ke 10 dari blok filsafat saya ini. Semakin hari, blok filsafat
semakin mendekati akhirnya. Saya juga menjadi semakin semangat untuk
mengerjakan tugas-tugas yang diberikan agar bisa meraih nilai yang maksimal
pada akhir blok nanti.
Untuk materi
pembahasan saya kali ini sebenarnya cukup rumit. Karena materi ini juga sulit
saya pahami. Namun, setelah mencoba untuk memahami dan membaca materi ini
berkali-kali. Saya akhirnya mampu mendapat inti dari materi ini. Penasaran? Materi
yang akan saya bahas adalah “Eksistensialisme”
Eksistensialisme
Eksistensialisme adalah sebuah
cabang ilmu filsafat yang mempelajari manusia sebagai makhluk yang konkret.
Jika selama ini semua pembahasan filsafat yang saya lakukan bersifat abstrak,
maka eksistensialisme adalah sebuah cabang filsafat yang sebaliknya,
mempelajari dan memahami manusia sebagai makhluk yang konkret.
Prinsip dasar di dalam
eksistensialisme adalah filsafat hrs bertitik tolak pd manusia konkrit, manusia
sbg eksistensi, maka bagi manusia eksistensi mendahului esensi. Artinya,
eksistensi dulu barulah ada esensi. Selain prinsip eksistensialisme juga
memiliki cirri-ciri, yaitu;
• Motif pokok adalah eksistensi, cara
manusia berada. Hanya manusia bereksistensi.
• Bereksistensi hrs diartikan scr dinamis.
Bereksistensi berarti menciptakan diri scr aktif, berbuat, menjadi,
merencanakan.
• Manusia dipandang terbuka, belum
selesai. Manusia terikat pd dunia sekitarnya, khususnya pd sesamanya.
• Memberi penekanan pd pengalaman konkrit.
Untuk
eksistensialisme sendiri, ada 2 tokoh terkenal yang berpengaruh besar pada
aliran ini. Kedua tokoh ini adalah “Kierkegaard” dan juga “Paul Jean Satre”.
Paul Jean Satre
}
Lahir di Paris 1905
Lahir di Paris 1905
} 1929 menjadi guru
} 1931-36 dosen filsafat di Le Havre
} 1942-44 dosen Loycee Pasteur
} Banyak menulis karya filsafat dan
sastra. Dipengaruhi oleh Husserl dan Heidegger.
Soren Kierkegaard

•
Soren
Aabye Kierkegaard lahir di Kopenhagen, Denmark 15 Mei 1813. Belajar teologi di
Univ. Kopenhagen, tp tdk selesai. Saat 3 saudara, ayah dan ibunya meninggal ia
mengalami krisis.
•
Sempat
menjauh dr temannya dan agama.
•
Sempat
bertunangan dg Regina Olsen, tp tdk jadi menikah.
•
1849
kembali lagi ke agamanya (Kristen).
•
Meninggal
1855 sbg org religius dan dipandang sbg tokoh di gerejanya.
•
Dia
dikenal sbg bapa eksistensialisme, aliran filsafat yg berkembang 50 thn setelah
kematiannya.
90 yaa mikeee
ReplyDeletewis pake gambar, keren 90!
ReplyDelete