Hello, kali ini saya kembali lagi dengan materi baru yang
tentunya tidak akan membosankan. Pada pertemuan ke 8 ini di mata kuliah
filsafat, saya akhirnya menemukan sebuah materi yang benar-benar saya sukai.
Materi itu lah yang akan saya bagikan pada postingan kali ini. Saya jamin
kalian tidak akan bosan saat membacanya.
Penasaran apa yang akan saya bagikan kali ini? Materi yang
akan saya bahas kali ini adalah mengenai “Afektifitas” mungkin kata ini akan
sangat asing bagi kalian yang baru pertama kali mendengarnya. Afektivitas
merupakan kata lain dari Perasaan. Saya sendiri sudah pernah membahas tentang
afektifitas sedikit pada blok pengantar psikologi yang lalu. Tapi, tentu akan
membosankan kalau saya hanya membahas tentang perasaan saja. Oleh karena itu,
saya akan membahas afektifitas dengan cara yang sedikit berbeda. Saya akan
menjelaskan Afektifitas dengan mengaitkannya di dalam keluarga. Semua org tentu
punya keluarga, maka materi ini akan lebih mudah dimengerti.
Afektifitas di dalam keluarga

Untuk membahas pembangunan
afektifitas di dalam keluarga, kita harus membahas “apa itu afektif?” Terlebih
dahulu. Hali ini ditujukan agar pemaparan penulis selanjutnya dapat dimengerti
dengan tepat dan tidak terjadi kesalahpahaman dalam pembahasan selanjutnya.
Jadi
apa sebenarnya yang dimaksud dengan afektivitas? Afektivitas dapat dikatakan
sebagai “perasaan” atau “emosi” yang dimiliki oleh manusia. Jika ada hal yang
membedakan manusia dengan binatang ataupun tumbuhan, maka hal tersebut adalah
“Afektifitas”. Karena manusia memiliki afektifitas lah makanya manusia dapat
merespon atau merasa tertarik kepada sesuatu. Pada dasarnya semua respon manusia
itu tergantung pada afektifitas dari diri manusia itu sendiri. Misalnya: Ketika
ada pasangan yang sedang menonton film, reaksi dari dua orang yang merupakan
pasangan itu pun dapat berbeda. Mungkin si wanita akan menyukai film yang
ditonton karena film tersebut romantis, namun, si laki-laki dapat tidak
menyukai film tersebut karena menurut si laki-laki film itu membosankan.
Seperti itulah afektifitas mempengaruhi respon atau tindakan kita terhadap
sesuatu. Karena kita tidak hanya mengenal, melainkan juga merasa, jadi kita
tidak hanya mengenal film apa yang kita tonton, akan tetapi juga apa yang kita
dapat rasakan dari film tersebut. Jika kita tidak memiliki afektifitas, maka
kita hanya akan memantulkan apa yang kita alami di dunia layaknya sebuah cermin.
Di
dalam keluarga, afektifitas berperan penting karena setiap anggota keluarga
mungkin dapat memiliki perasaan yang berbeda terhadap sesuatu yang dilakukan
oleh seorang anggota keluarga. Penting bagi kita untuk dapat memahami
afektifitas dari setiap anggota keluarga kita, karena setiap anggota keluarga
pasti memiliki afektifitas mereka masing-masing, dengan begitulah kita dapat
saling mengerti dan akhirnya menjadi dekat dengan keluarga kita.
Afektifitas
dari setiap orang bahkan anggota keluarga pun dapat berbeda, namun hal itu
tidak menandakan bahwa kita tidak bisa membangun sebuah afektifitas yang dapat
membangun kedekatan antar anggota keluarga. Setiap keluarga dapat membangun
afektifitas antar anggota keluarga sehingga anggota keluarga dapat merasa
nyaman dengan satu sama lain. Jadi, afektifitas setiap anggota mungkin
berbeda-beda akan suatu hal, namun, jika dilakukan dengan tepat kita dapat
membangun sebuah ke intiman di dalam keluarga yang dapat membangun sebuah
afektifitas yang diinginkan di dalam keluarga.
Penting
untuk kita ketahui bahwa, afektifitas sendiri dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu “Afektifitas Positif” dan “Afektifitas Negatif”. Yang ingin kita bangun
di dalam keluarga tentu adalah afektifitas positif yang akan membantu kita
berinteraksi dengan baik di dalam keluarga. Tapi, bagaimana cara membedakan
afektifitas positif dan negatif? Hal tersebut akan dijelaskan dengan
menggunakan teori Louis Leahy yang terdapat di dalam bukunya yang berjudul
“Manusia Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis tentang Makhluk Paradoksal” yaitu;
afektifitas sebenarnya berputar pada dua kutub yang saling berlawanan yaitu;
“Cinta” dan “Benci”. Jadi, pada dasarnya afektifitas kita hanya memiliki dua
kemungkinan yaitu afektifitas yang mendekati rasa cinta atau afektifitas yang
mendekati rasa benci. Cinta dan apa yang diakibatkan oleh cinta dapat dikatakan
sebagai afektifitas positif. Begitu juga dengan benci dan apa yang diakibatkan
olehnya dapat dikatakan sebagai afektifitas negatif. Oleh karena itu, ada
baiknya setiap kita ingin melakukan sesuatu di dalam keluarga perlu kita
cermati apakah tindakan tersebut didasari oleh cinta atau benci?
Satu
hal yang juga penting kita ketahui adalah bahwa manusia sebagai makhluk yang
memilki kedua kutub bertentangan ini sebenarnya lebih cenderung untuk mencintai
karena cintalah yang lebih dasariah. Hal ini juga pernah dikatakan oleh seorang
tokoh dunia yaitu Nelson Mandela. Beliau mengatakan “No one is born hating another person because of the colour of his skin,
or his background, or his religion. People must learn to hate and if they can
learm to hate, they can be thaught to love, for love comes more naturally to
the human heart than it’s opposite”. Pendapat Nelson Mandela ini juga di
dukung oleh Louis Leahy yang mengatakan bahwa orang hanya membenci sesuatu atau
seseorang sejauh hal itu atau orang itu tampak sebagai sesuatu yang buruk
(suatu ancaman, penghalang, atau bahaya) bagi apa yang dicintai. Jadi, pada
hakikatnya cintalah yang terdapat pada asal mula dari segala hidup afektif,
sekurang-kurangnya rasa cinta akan diri sendiri. Oleh sebab itu, di keluarga
kita sebenarnya lebihcenderung untuk saling mencintai, hanya kita perlu
memperhatikan bagaimana cara kita mengekspresikan rasa cinta tersebut, dan juga
memahami hal-hal apa yang dicintai oleh setiap anggota keluarga dan berusaha
untuk tidak menjadi penghalang bagi hal yang mereka cintai tersebut.
Berbagai
hal mengenai afektifitas tersebut akan membantu kita untuk memahami
permasalahan yang terjadi di dalam keluarga. Pada dasarnya keluarga adalah
tempat untuk memperoleh dukungan dalam situasi-situasi yang berat. Jadi,
sebagai salah satu anggota keluarga setiap individu harus mampu membangun
afektifitas yang positif terhadap anggota keluarga yang lainnya.
Nah, saya kira penjelasan saya mengenai afektifitas sudah
sangat jelas. Afektifitas merupakan hal yang sangat penting bagi kita jika kita
ingin berinteraksi dengan orang lain dan manusia tentu perlu berinteraksi
dengan orang lain. Jadi, marilah kita mulai membangun afektifitas yang positif
dengan orang lain, dimulai dari keluarga kita sendiri.
#Quote: Do everything with love, because love will comes
back to you.
No comments:
Post a Comment