Background

Sunday, October 5, 2014

Pertemuan ke 8 (27 September 2014)

Hello, kali ini saya kembali lagi dengan materi baru yang tentunya tidak akan membosankan. Pada pertemuan ke 8 ini di mata kuliah filsafat, saya akhirnya menemukan sebuah materi yang benar-benar saya sukai. Materi itu lah yang akan saya bagikan pada postingan kali ini. Saya jamin kalian tidak akan bosan saat membacanya.

Penasaran apa yang akan saya bagikan kali ini? Materi yang akan saya bahas kali ini adalah mengenai “Afektifitas” mungkin kata ini akan sangat asing bagi kalian yang baru pertama kali mendengarnya. Afektivitas merupakan kata lain dari Perasaan. Saya sendiri sudah pernah membahas tentang afektifitas sedikit pada blok pengantar psikologi yang lalu. Tapi, tentu akan membosankan kalau saya hanya membahas tentang perasaan saja. Oleh karena itu, saya akan membahas afektifitas dengan cara yang sedikit berbeda. Saya akan menjelaskan Afektifitas dengan mengaitkannya di dalam keluarga. Semua org tentu punya keluarga, maka materi ini akan lebih mudah dimengerti.

Afektifitas di dalam keluarga
 Family_Portrait
Untuk membahas pembangunan afektifitas di dalam keluarga, kita harus membahas “apa itu afektif?” Terlebih dahulu. Hali ini ditujukan agar pemaparan penulis selanjutnya dapat dimengerti dengan tepat dan tidak terjadi kesalahpahaman dalam pembahasan selanjutnya.

                Jadi apa sebenarnya yang dimaksud dengan afektivitas? Afektivitas dapat dikatakan sebagai “perasaan” atau “emosi” yang dimiliki oleh manusia. Jika ada hal yang membedakan manusia dengan binatang ataupun tumbuhan, maka hal tersebut adalah “Afektifitas”. Karena manusia memiliki afektifitas lah makanya manusia dapat merespon atau merasa tertarik kepada sesuatu. Pada dasarnya semua respon manusia itu tergantung pada afektifitas dari diri manusia itu sendiri. Misalnya: Ketika ada pasangan yang sedang menonton film, reaksi dari dua orang yang merupakan pasangan itu pun dapat berbeda. Mungkin si wanita akan menyukai film yang ditonton karena film tersebut romantis, namun, si laki-laki dapat tidak menyukai film tersebut karena menurut si laki-laki film itu membosankan. Seperti itulah afektifitas mempengaruhi respon atau tindakan kita terhadap sesuatu. Karena kita tidak hanya mengenal, melainkan juga merasa, jadi kita tidak hanya mengenal film apa yang kita tonton, akan tetapi juga apa yang kita dapat rasakan dari film tersebut. Jika kita tidak memiliki afektifitas, maka kita hanya akan memantulkan apa yang kita alami di dunia layaknya sebuah cermin.

                Di dalam keluarga, afektifitas berperan penting karena setiap anggota keluarga mungkin dapat memiliki perasaan yang berbeda terhadap sesuatu yang dilakukan oleh seorang anggota keluarga. Penting bagi kita untuk dapat memahami afektifitas dari setiap anggota keluarga kita, karena setiap anggota keluarga pasti memiliki afektifitas mereka masing-masing, dengan begitulah kita dapat saling mengerti dan akhirnya menjadi dekat dengan keluarga kita.

                Afektifitas dari setiap orang bahkan anggota keluarga pun dapat berbeda, namun hal itu tidak menandakan bahwa kita tidak bisa membangun sebuah afektifitas yang dapat membangun kedekatan antar anggota keluarga. Setiap keluarga dapat membangun afektifitas antar anggota keluarga sehingga anggota keluarga dapat merasa nyaman dengan satu sama lain. Jadi, afektifitas setiap anggota mungkin berbeda-beda akan suatu hal, namun, jika dilakukan dengan tepat kita dapat membangun sebuah ke intiman di dalam keluarga yang dapat membangun sebuah afektifitas yang diinginkan di dalam keluarga.

                Penting untuk kita ketahui bahwa, afektifitas sendiri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu “Afektifitas Positif” dan “Afektifitas Negatif”. Yang ingin kita bangun di dalam keluarga tentu adalah afektifitas positif yang akan membantu kita berinteraksi dengan baik di dalam keluarga. Tapi, bagaimana cara membedakan afektifitas positif dan negatif? Hal tersebut akan dijelaskan dengan menggunakan teori Louis Leahy yang terdapat di dalam bukunya yang berjudul “Manusia Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis tentang Makhluk Paradoksal” yaitu; afektifitas sebenarnya berputar pada dua kutub yang saling berlawanan yaitu; “Cinta” dan “Benci”. Jadi, pada dasarnya afektifitas kita hanya memiliki dua kemungkinan yaitu afektifitas yang mendekati rasa cinta atau afektifitas yang mendekati rasa benci. Cinta dan apa yang diakibatkan oleh cinta dapat dikatakan sebagai afektifitas positif. Begitu juga dengan benci dan apa yang diakibatkan olehnya dapat dikatakan sebagai afektifitas negatif. Oleh karena itu, ada baiknya setiap kita ingin melakukan sesuatu di dalam keluarga perlu kita cermati apakah tindakan tersebut didasari oleh cinta atau benci?

                Satu hal yang juga penting kita ketahui adalah bahwa manusia sebagai makhluk yang memilki kedua kutub bertentangan ini sebenarnya lebih cenderung untuk mencintai karena cintalah yang lebih dasariah. Hal ini juga pernah dikatakan oleh seorang tokoh dunia yaitu Nelson Mandela. Beliau mengatakan “No one is born hating another person because of the colour of his skin, or his background, or his religion. People must learn to hate and if they can learm to hate, they can be thaught to love, for love comes more naturally to the human heart than it’s opposite”. Pendapat Nelson Mandela ini juga di dukung oleh Louis Leahy yang mengatakan bahwa orang hanya membenci sesuatu atau seseorang sejauh hal itu atau orang itu tampak sebagai sesuatu yang buruk (suatu ancaman, penghalang, atau bahaya) bagi apa yang dicintai. Jadi, pada hakikatnya cintalah yang terdapat pada asal mula dari segala hidup afektif, sekurang-kurangnya rasa cinta akan diri sendiri. Oleh sebab itu, di keluarga kita sebenarnya lebihcenderung untuk saling mencintai, hanya kita perlu memperhatikan bagaimana cara kita mengekspresikan rasa cinta tersebut, dan juga memahami hal-hal apa yang dicintai oleh setiap anggota keluarga dan berusaha untuk tidak menjadi penghalang bagi hal yang mereka cintai tersebut.

                Berbagai hal mengenai afektifitas tersebut akan membantu kita untuk memahami permasalahan yang terjadi di dalam keluarga. Pada dasarnya keluarga adalah tempat untuk memperoleh dukungan dalam situasi-situasi yang berat. Jadi, sebagai salah satu anggota keluarga setiap individu harus mampu membangun afektifitas yang positif terhadap anggota keluarga yang lainnya.

Nah, saya kira penjelasan saya mengenai afektifitas sudah sangat jelas. Afektifitas merupakan hal yang sangat penting bagi kita jika kita ingin berinteraksi dengan orang lain dan manusia tentu perlu berinteraksi dengan orang lain. Jadi, marilah kita mulai membangun afektifitas yang positif dengan orang lain, dimulai dari keluarga kita sendiri.


#Quote: Do everything with love, because love will comes back to you.

No comments:

Post a Comment