Penerapan Classical
Conditioning pada Anak
Latar Belakang
Kemampuan
belajar pada anak seharusnya dilatih sejak dini karena pada usia tersebut anak
baru dikenalkan dengan yang namanya sekolah, buku, dan hal lain yang berkaitan
dengan pendidikan. Rogers (dikutip dalam Rasyidin, 2007) menyatakan bahwa “Education is related to the change of behaviour”
yang berarti proses belajar berperan penting dalam pembentukan perilaku anak. Jika
sejak awal orangtua ataupun orang terdekat dari anak dapat mengerti metode belajar
yang digunakan oleh anak maka hal ini dapat membantu tumbuh kembang anak. Salah
satu metode belajar yang paling mendasar dalam setiap individu adalah classical conditioning. Setelah membaca
tulisan ini diharapkan pembaca akan lebih mengerti cara menjaga tumbuh kembang
anak dalam hal belajar.
Pengertian
Belajar
Sebelum
membahas cara memaksimalkan kemampuan belajar anak, sebaiknya pengertian
tentang belajar itu sendiri perlu dibahas terlebih dahulu untuk membantu
memahami pembahasan selanjutnya.
Pengertian
menurut KBBI. “berusaha
memperoleh kepandaian atau ilmu” (KBBI, 2008).
Pengertian
menurut para ahli. Berikut adalah pengertian belajar menurut beberapa ahli
dalam ilmu psikologi.
Menurut Laura King. “A systematic, relatively permanent change
in behaviour that occurs through experience.” (King, 2014, h. 182).
Berdasarkan penjelasan ini dapat dimengerti
bahwa pengalaman memegang peran penting dalam proses pembelajaran.
Menurut
Ratna Yudhawati dan Dany Haryanto. “Pembelajaran
adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan perilaku
yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya.” (Yudhawati & Haryanto, 2011, h. 14).
Jadi, proses belajar merupakan proses yang harus dilakukan dengan berinteraksi
dengan lingkungan sekitar.
Teori
Classical Conditioning.
Metode belajar merupakan salah satu hal yang
paling berpengaruh dalam proses belajar
itu sendiri. Penulisan membahas salah satu
metode belajar yang disebut dengan classical
conditioning. Metode ini sendiri dijelaskan di dalam buku King (2014, h.
183) “classical conditioning, in which a
neutral stimulus (the sound of a toilet flushing) becomes associated with an
innately meaningful stimulus (the pain of scalding water)and acquires the
capacity to elicit a similar response (panic)”. Hal ini berarti bahwa classical conditioning adalah salah satu
metode belajar dengan cara mengondisikan seseorang
dengan stimuli tertentu sehingga orang tersebut akan mengasosiasikan stimuli tersebut
dengan stimuli lain yang mengakibatkan adanya respon dari orang tersebut.
Adapun
beberapa istilah yang harus dimengerti sebelum membahas metode ini lebih lanjut
adalah: (a) unconditioned stimulus (US),
sebuah stimuli yang akan menghasilkan respon tanpa pengondisian; (b) unconditioned response (UR), respon yang
dihasilkan secara otomatis terhadap US; (c) neutral
stimulus (NS), sebuah stimuli yang tidak menimbulkan reaksi; (d) conditioned stimulus (CS), stimuli yang dulunya adalah NS yang akhirnya menghasilkan respons setelah pengondisian;
(e) conditioned response (CR), reaksi
yang dipelajari setelah pengondisian (King 2014).
Ivan Pavlov (dikutip dalam King, 2014) mengemukakan
teori dasar dari classical conditioning dan
membagi prosesnya menjadi beberapa bagian.
Acquisition. Proses ini merupakan
tahap pertama dalam classical
conditioning. Di proses ini subjek akan mempelajari hubungan antara US
dengan NS saat dipasangkan. Pada proses ini NS secara terus menerus dipasangkan
dengan US dan pada jangka waktu tertentu NS yang dulunya tidak menimbulkan
reaksi akan menimbulkan reaksi baru. Setelah adanya reaksi yang terjadi, maka
NS berubah menjadi CS. Classical
conditioning sendiri adalah salah satu metode yang belajar yang tidak
membutuhkan usaha atau bisa dikatakan terjadi secara tidak sadar.
Contoh
penerapan classical conditioning pada
anak adalah pada malam hari sebelum anak tidur, lampu kamar dimatikan (US) dan
anak akan merasa ngantuk (UR). Jika sebelum lampu dimatikan, anak diberi musik
untuk didengarkan (NS) maka setelah beberapa lama akan terjadi proses acquisition. Anak yang awalnya mengantuk
(UR) hanya saat lampu dimatikan (US) jika terus menerus dipasangkan dengan
musik lama kelamaan anak akan mengantuk jika mendengarkan musik meskipun lampu
belum dimatikan (CR). Pada kondisi ini musik yang dulunya merupakan NS telah
berubah menjadi CS.
Extinction. Jika acquisition
adalah proses belajar dari classical
conditioning maka pada tahap extinction
ini kita dapat menghilangkan atau mengurangi reaksi anak terhadap suatu
stimuli yang tidak kita inginkan. Proses ini dapat terjadi karena
dimunculkannya CS tanpa diikuti oleh US. Tidak adanya US setelah dimunculkannya
CS membuat CS kehilangan kekuatan untuk memunculkan CR.
Misalnya
kebiasaan anak tadi yang akan mengantuk jika mendengar musik mulai mengganggu
karena mungkin anak dapat mengantuk di mana saja. Oleh karena itu pada malam
hari dapat dilakukan proses extinction dengan
cara memunculkan CS yaitu musik tanpa diikuti oleh US yaitu mematikan lampu.
Setelah proses ini dilakukan maka kekuatan dari CS akan berkurang secara
berkala karena tidak adanya US yang mengikuti.
Spontaneous
recovery. Meskipun
kekuatan dari CS dapat dikurangi dengan proses extinction, namun itu bukan merupakan akhir dari CR. Jika subjek
diberi waktu istirahat tanpa adanya pengondisian lebih lanjut dan suatu saat
muncul CS yang dulu pernah dikondisikan maka akan terjadi CR kembali. Hal ini
terjadi karena ingatan akan asosiasi CS dengan CR masih berbekas di dalam otak.
Misalnya
anak yang tadi telah melewati proses extinction
diberi jeda waktu tanpa adanya pengondisian lebih lanjut, namun suatu saat ia
diberi musik kembali pada malam hari. Hal ini akan membuat anak tersebut
melakukan proses mengingat kembali asosiasi antara CS dengan CR dan dapat
merasa ngantuk kembali.
Simpulan
Classical conditioning merupakan metode
belajar yang terjadi dengan sendirinya tanpa adanya usaha dari individu itu sendiri.
Pada dasarnya classical conditioning adalah
metode belajar yang memfokuskan pada kebiasaan sehari-hari dari individu.
Setelah mengerti cara kerja dari metode classical
conditioning kebiasaan yang dilakukan setiap hari dapat
diperbaiki atau dimaksimalkan. Hal ini menjadi penting karena kebiasaan belajar
dapat mempengaruhi kepribadian anak. Cloninger mengatakan “Personality may be defined as the underlying causes
within the person of individual behaviour and experience” (1996, h.3). Jadi,
pengalaman yang dialami sejak usia dini sangat berpengaruh terhadap apa yang
dipelajari oleh anak dan pada akhirnya membentuk kepribadian anak tersebut.
Cloninger, S. C.
(1996). Theories of personality: Understanding
persons (2nd ed.). Upper
Saddle River, NJ: Prentice-Hall.
Kamus Besar Bahasa
Indonesia. (2014). Diunduh dari http://kbbi.web.id/index.php?w=belajar pada 10 November 2014.
King, L. (2014). The science of psychology:
An appreciative view. New York, NY: McGraw-Hill.
Rasyidin, W. (2007). Ilmu dan
aplikasi pendidikan: Ilmu pendidikan teoretis. Bandung, Indonesia: IMTIMA.
Yudhawati,
R., & Haryanto, D. (2011). Teori –
teori dasar psikologi pendidikan. Dalam S. Amri (Ed.). Jakarta: Prestasi
pustakaraya.
No comments:
Post a Comment