Background

Tuesday, November 11, 2014

Penerapan Classical Conditioning pada Anak

Penerapan Classical Conditioning pada Anak

Latar Belakang
            Kemampuan belajar pada anak seharusnya dilatih sejak dini karena pada usia tersebut anak baru dikenalkan dengan yang namanya sekolah, buku, dan hal lain yang berkaitan dengan pendidikan. Rogers (dikutip dalam Rasyidin, 2007) menyatakan bahwa “Education is related to the change of behaviour” yang berarti proses belajar berperan penting dalam pembentukan perilaku anak. Jika sejak awal orangtua ataupun orang terdekat dari anak dapat mengerti metode belajar yang digunakan oleh anak maka hal ini dapat membantu tumbuh kembang anak. Salah satu metode belajar yang paling mendasar dalam setiap individu adalah classical conditioning. Setelah membaca tulisan ini diharapkan pembaca akan lebih mengerti cara menjaga tumbuh kembang anak dalam hal belajar.

Pengertian Belajar
            Sebelum membahas cara memaksimalkan kemampuan belajar anak, sebaiknya pengertian tentang belajar itu sendiri perlu dibahas terlebih dahulu untuk membantu memahami pembahasan selanjutnya.
     Pengertian menurut KBBI.berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu” (KBBI, 2008).


     Pengertian menurut para ahli. Berikut adalah pengertian belajar menurut beberapa ahli dalam ilmu psikologi.
     Menurut Laura King. “A systematic, relatively permanent change in behaviour that occurs through experience.” (King, 2014, h. 182). Berdasarkan penjelasan ini dapat  dimengerti bahwa pengalaman memegang peran penting dalam proses pembelajaran.
     Menurut Ratna Yudhawati dan Dany Haryanto. “Pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.” (Yudhawati & Haryanto, 2011, h. 14). Jadi, proses belajar merupakan proses yang harus dilakukan dengan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Teori Classical Conditioning.
             Metode belajar merupakan salah satu hal yang paling berpengaruh  dalam proses belajar itu sendiri. Penulisan membahas salah satu metode belajar yang disebut dengan classical conditioning. Metode ini sendiri dijelaskan di dalam buku King (2014, h. 183) “classical conditioning, in which a neutral stimulus (the sound of a toilet flushing) becomes associated with an innately meaningful stimulus (the pain of scalding water)and acquires the capacity to elicit a similar response (panic)”. Hal ini berarti bahwa classical conditioning adalah salah satu metode belajar dengan cara mengondisikan seseorang dengan stimuli tertentu sehingga orang tersebut akan mengasosiasikan stimuli tersebut dengan stimuli lain yang mengakibatkan adanya respon dari orang tersebut.  
            Adapun beberapa istilah yang harus dimengerti sebelum membahas metode ini lebih lanjut adalah: (a) unconditioned stimulus (US), sebuah stimuli yang akan menghasilkan respon tanpa pengondisian; (b) unconditioned response (UR), respon yang dihasilkan secara otomatis terhadap US; (c) neutral stimulus (NS), sebuah stimuli yang tidak menimbulkan reaksi; (d) conditioned stimulus (CS), stimuli yang dulunya adalah NS  yang akhirnya menghasilkan respons setelah pengondisian; (e) conditioned response (CR), reaksi yang dipelajari setelah pengondisian (King 2014).
Ivan Pavlov (dikutip dalam King, 2014) mengemukakan teori dasar dari classical conditioning dan membagi prosesnya menjadi beberapa bagian.
     Acquisition. Proses ini merupakan tahap pertama dalam classical conditioning. Di proses ini subjek akan mempelajari hubungan antara US dengan NS saat dipasangkan. Pada proses ini NS secara terus menerus dipasangkan dengan US dan pada jangka waktu tertentu NS yang dulunya tidak menimbulkan reaksi akan menimbulkan reaksi baru. Setelah adanya reaksi yang terjadi, maka NS berubah menjadi CS. Classical conditioning sendiri adalah salah satu metode yang belajar yang tidak membutuhkan usaha atau bisa dikatakan terjadi secara tidak sadar.
            Contoh penerapan classical conditioning pada anak adalah pada malam hari sebelum anak tidur, lampu kamar dimatikan (US) dan anak akan merasa ngantuk (UR). Jika sebelum lampu dimatikan, anak diberi musik untuk didengarkan (NS) maka setelah beberapa lama akan terjadi proses acquisition. Anak yang awalnya mengantuk (UR) hanya saat lampu dimatikan (US) jika terus menerus dipasangkan dengan musik lama kelamaan anak akan mengantuk jika mendengarkan musik meskipun lampu belum dimatikan (CR). Pada kondisi ini musik yang dulunya merupakan NS telah berubah menjadi CS.
     Extinction. Jika acquisition adalah proses belajar dari classical conditioning maka pada tahap extinction ini kita dapat menghilangkan atau mengurangi reaksi anak terhadap suatu stimuli yang tidak kita inginkan. Proses ini dapat terjadi karena dimunculkannya CS tanpa diikuti oleh US. Tidak adanya US setelah dimunculkannya CS membuat CS kehilangan kekuatan untuk memunculkan CR.
            Misalnya kebiasaan anak tadi yang akan mengantuk jika mendengar musik mulai mengganggu karena mungkin anak dapat mengantuk di mana saja. Oleh karena itu pada malam hari dapat dilakukan proses extinction dengan cara memunculkan CS yaitu musik tanpa diikuti oleh US yaitu mematikan lampu. Setelah proses ini dilakukan maka kekuatan dari CS akan berkurang secara berkala karena tidak adanya US yang mengikuti.
     Spontaneous recovery. Meskipun kekuatan dari CS dapat dikurangi dengan proses extinction, namun itu bukan merupakan akhir dari CR. Jika subjek diberi waktu istirahat tanpa adanya pengondisian lebih lanjut dan suatu saat muncul CS yang dulu pernah dikondisikan maka akan terjadi CR kembali. Hal ini terjadi karena ingatan akan asosiasi CS dengan CR masih berbekas di dalam otak.
            Misalnya anak yang tadi telah melewati proses extinction diberi jeda waktu tanpa adanya pengondisian lebih lanjut, namun suatu saat ia diberi musik kembali pada malam hari. Hal ini akan membuat anak tersebut melakukan proses mengingat kembali asosiasi antara CS dengan CR dan dapat merasa ngantuk kembali.

Simpulan
            Classical conditioning merupakan metode belajar yang terjadi dengan sendirinya tanpa adanya usaha dari individu itu sendiri. Pada dasarnya classical conditioning adalah metode belajar yang memfokuskan pada kebiasaan sehari-hari dari individu. Setelah mengerti cara kerja dari metode classical conditioning             kebiasaan yang dilakukan setiap hari dapat diperbaiki atau dimaksimalkan. Hal ini menjadi penting karena kebiasaan belajar dapat mempengaruhi kepribadian anak. Cloninger mengatakan “Personality may be defined as the underlying causes within the person of individual behaviour and experience” (1996, h.3). Jadi, pengalaman yang dialami sejak usia dini sangat berpengaruh terhadap apa yang dipelajari oleh anak dan pada akhirnya membentuk kepribadian anak tersebut.



Cloninger, S. C. (1996). Theories of personality: Understanding persons (2nd ed.). Upper Saddle River, NJ: Prentice-Hall.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2014). Diunduh dari http://kbbi.web.id/index.php?w=belajar pada 10 November 2014.

King, L. (2014). The science of psychology: An appreciative view. New York, NY: McGraw-Hill.

Rasyidin, W. (2007). Ilmu dan aplikasi pendidikan: Ilmu pendidikan teoretis. Bandung, Indonesia: IMTIMA.


Yudhawati, R., & Haryanto, D. (2011). Teori – teori dasar psikologi pendidikan. Dalam S. Amri (Ed.). Jakarta: Prestasi pustakaraya.

No comments:

Post a Comment