Background

Tuesday, September 23, 2014

Pertemuan ke 5 (22 September 2014)

Guys!!! Saya kembali lagi dengan postingan baru! Hahaha seperti biasa, saya akan membagikan pengetahuan yang saya dapatkan pada kelas Filsafat kali ini. Di pertemuan kali ini, saya mendapatkan kesan yang sangat menarik karena semua materi yang diberikan dapat dijelaskan dengan praktis sehingga saya dan teman-teman dapat mengerti apa yang diajarkan dengan lebih cepat dan tepat. Oleh karena itu, saya akan mencoba menjelaskan materi kali ini lengkap dengan berbagai contoh yang saya buat sendiri. J

Nah, untukk materinya sendiri, kali ini kami kembali belajar soal bagian dari logika yaitu; “Silogisme”, dan “Kesesatan/Fallacia”. Mungkin bagi kalian yang baru pertama kali membaca istilah ini akan bingung dengan apa yang dimaksud dengan Silogisme dan juga Fallacia. Tapi, tenang saja, setelah kalian membaca tulisan saya ini, saya yakin kalian akan mampu mengerti apa yang dimaksud oleh kedua kata tersebut dan mampu membuat contoh-contohnya sendiri juga.


Silogisme


                Jadi, yang pertama akan saya bahas adalah mengenai Silogisme. Kenapa? Karena Silogisme mungkin tidak akan begitu asing bagi kita karena kembali membicarakan pengambilan kesimpulan. Pengertian dari Silogisme sendiri adalah simpulan darimana dua premis disimpulkan menjadi satu. Nah, masih ingat deduksi dan induksi dong? Silogisme pada dasarnya adalah pengambilan kesimpulan juga, akan tetapi silogisme akan membahas pengambilan kesimpulan dengan lebih sistematis dan mendalam.

                Nah, untuk silogisme sendiri, mungkin akan lebih gampang kalau kita membagi silogisme menjadi 2, agar tidak bingung yaitu; Silogisme Kategoris Tunggal dan Silogisme Kategoris Majemuk. Kedua bagian tersebut juga sebenarnya akan dibagi-bagi lagi menjadi silogisme tersendiri. Berikut akan saya jelaskan satu persatu.

Silogisme Kategoris Tunggal
                Silogisme ini mempunyai 2 premis dan terdiri dari 3 term, yaitu S, P, dan M. Silogisme ini sendiri memiliki beberapa bentuk, yaitu:
1.       M adalah S dalam premis mayor dan P dalam permis minor.
Aturan: Premis minor hrs sbg penegasan, sedang premis mayor bersifat umum.
Contoh:
(M – P) Mahasiswa adalah kaum intelektual
(S – M) Saya adalah mahasiswa
Artinya: (S – P) Saya adalah kaum intelektual

2.       M jd P dlm premis mayor dan minor.
Aturan: Salah satu premis harus negatif. Premis mayor bersifat umum.
Contoh:
(M – P)Mahasiswa di kelas 305 mempunyai Nametag
(M – S)Saya tidak mempunyai Nametag
Artinya: (S – P) Saya bukan mahasiswa di kelas 305.

3.       M menjadi S dlm premis mayor dan minor.
Aturan: Premis minor hrs berupa penegasan  dan simpulannya bersifat partikular.
Contoh:
(M – P) Dosen bertugas untuk mengajar
(M – S) Ada dosen yang merupakan lulusan S-2
Artinya: (S – P) Sebagian lulusan S-2 bertugas untuk mengajar.

4.       M adalah P dlm premis mayor dan S dlm premis minor.
Aturan: Premis minor hrs berupa penegasan, sedangkan  Simpulan bersifat partikular.
Contoh:
(P – M) Baju itu pakaian
(M – S) Pakaian melindungi kita dari sinar matahari
Artinya: (S – P) Jadi, sebagian yang melindungi kita dari sinar matahari adalah pakaian

Nah, silogisme yang kita bahas di atas hana setengah dari silogisme yang telah saya pelajari. Masih ada satu kategori silogisme lagi, dan sekarang kita akan membahas silogisme tersebut, yaitu;

Silogisme Kategoris Majemuk.
                Jenis silogisme ini memiliki banyak premis (lebih dari tiga) atau bisa dikatakan memiliki premis yang lengkap. Bentuk-bentuk dari silogisme ini adalah sebagai berikut:

Epicherema
Silogisme yang salah satu atau kedua premisnya disertai alasan. Contoh:

Mahasiswa yang pintar adalah mahasiswa yang rajin. Karena belajar dengan giat.
Saya adalah mahasiswa yang berprestasi. Karena sering menang lomba.
                Jadi, Saya adalah mahasiswa yang rajin.


Enthymema
                Silogisme yang tidak mengemukakan semua premis secara gamblang/eksplisit. Salah satu premisnya ada yang dilampaui, disebut juga “Silogisme yang disingkat”. Contoh:

Aristoteles adalah manusia. Jadi, akan meninggal.

Manusia akan meninggal.
Aristoteles adalah manusia.
Jadi, Aristoteles akan meninggal.


Polisilogisme
                Sebuah deretan silogisme dimana simpulan silogisme yangg satu menjadi premis untuk silogisme yang lainnya. Contoh:

Seseorang yang mendapat nilai ujian bagus, merasa bahagia
Orang yang rajin mendapat nilai ujian yang bagus.
Jadi, Orang yang rajin merasa bahagia.


Sorites
                Silogisme yang memiliki lebih dari 2 premis. Simpulan-simpulan dari silogisme yang satu dihubungkan sedemikian rupa sehingga predikat dari simpulan yang satu menjadi subjek bagi simpulan lainnya. Contoh:

Orang yang rajin akan mendapat nilai yang bagus. Orang yang mendapat nilai yang bagus dapat menjadi kumlaud. Orang yang menadi kumlaud akan bisa mendapat kerja yang bagus. Orang yang mendapat kerja yang bagus akan bahagia.

Jadi, orang yang rajin akan bahagia.


“Sudah mulai bingung? Tidak apa-apa! Itu berarti kalian sudah belajar berfilsafat!” itulah kata-kata dari dosen saya yang paling saya ingat. Karena hal itu juga terjadi kepada saya. Namun, kalau kita benar-benar mencoba untuk memahami silogisme ini, maka semua tidak akan sesulit yang kalian bayangkan. Jadi, kalau sekarang kalian masih bingung, jangan takut, itu hanyalah sebuah bagian dari proses belajar filsafat.

Kesesatan/Fallacia

                Materi selanjutnya yang akan saya jelaskan adalah Kesesatan atau sering disebut dengan Fallacia. Dalam mengambil kesimpulan atau keputusan sering kali kita mengalami kesalahan. Nah, kesalahan inilah yang disebut dengan kesesatan atau fallacia. Dengan mempelajari fallacia ini, kita akan lebih mengerti tentang kesalahan apa yang sering kita buat dan tentunya memahami kenapa kita dapat melakukan kesalahan tersebut. Tentu dengan kita menyadari kesalahan-kesalahan kita sendiri, kita akan lebih berhati-hati kedepannya dan mampu memperbaiki apa yang menurut kita masih kurang.

                Untuk fallacia sendiri, sebenarnya fallacia dibagi menjadi banyak kategori dan dikelompokkan ke dalam berbagai kategori. Namun, saya tidak akan terlalu mendalami soal itu. Karena kalau ingin mendalami semua jenis fallacia maka postingan ini tidak aka nada habisnya. Tapi tenang saja, saya tetap akan membahas 2 kategori Fallacia yang paling penting, yaitu;

Kesesatan fakta
                Pada dasarnya kita melakukan kesalahan atau kekeliruan atau kesesatan karena ada penyebabnya. Nah, kesesatan fakta ini merupakan satu dari 2 penyebab utama terjadinya kesesatan. Kesestan fakta berarti bahwa kita menyimpulkan atau mengambil kesimpulan yang salah karena adanya kesalahan fakta dalam premis-premis yang kita pakai untuk mengambil kesimpulan tersebut. Contohnya:

>>Albert Einstein adalah penemu sepeda.
>>Bola berbentuk kotak
>>Manusia berkembang biak dengan cara bertelur
>>Bahasa mandarin adalah bahasa internasional
>>Laki-laki melahirkan

                Jadi, mulai sekarang kita semua harus hati-hati ya dalam menerima fakta yang diberikan oleh orang lain. Pastikan untuk selalu mempertanyakan bukti-bukti dari fakta tersebut dan tidak langsung percaya begitu saja terhadap sesuatu. Oke?


Kesesatan Penalaran
                Nah, inilah kesalahan yang sering dan paling banyak terjadi pada kehidupan kita sehari-hari. Kadang kita memang sudah menerima dan mengevaluasi fakta yang ada dan fakta itu memang benar, tetapi kesalahan sering kali terjadi pada proses penalaran saat kita ingin mencerna informasi tersebut. Contoh:

>>Mahasiswa adalah kaum intelektual
>> Saya adalah mahasiswa
Semua kaum intelektual adalah mahasiswa.

Bisa dilihat bahwa untuk memproses informasi, kita benar-benar harus teliti, jangan sampai kita melalukan kesalahan penalaran dan akhirnya menyalahkan fakta-fakta yang sudah ada. Jadi, mari kita bersama-sama melakukan penalaran dengan lebih berhati-hati agar dapat mengurangi kesesatan yang ada.



Dari semua materi yang telah saya paparkan ini, saya berharap kita semua menjadi lebih memahami bagaimana cara penarikan kesimpulan yang benar, dan apa saja yang dikatakan sebagai kesesatan. Karena sering kali kita menyimpulkan sesuatu yang salah dan akhirnya berakibat kepada diri kita sendiri. Alangkah baiknya kalau kita semua mampu menarik kesimpulan dengan lebih hati-hati dan juga menyadari jika ada kesesatan/fallacia yang kita perbuat.

9 comments:

  1. Lengkappp oii punya luu hahahaha 85 lah mikee

    ReplyDelete
  2. design blog keren mike, untuk isi udah lengkap dan mudah dipahami, 90 lah mike
    di tunggu next postingannya

    ReplyDelete
  3. lengkap na salut sama mike skor na 95!!

    ReplyDelete
  4. Penjelasannya selalu lengkap dan jelas! 90.. Keep posting mike;)

    ReplyDelete