Hai Semua, seperti yang saya janjikan pada
postingan sebelumnya, saya akan membantu teman-teman semua untuk dapat lebih
mengerti tentang Metode dan teori kebenaran melalui contoh kasus yang mungkin
akan lebih gampang ditangkap dan dipahami oleh semua orang. Nah, untuk contoh
kasusnya sendiri tentu bukan contoh kasus yang asing bagi kita semua, contoh
kasus ini sangat up to date dan
sedang banyak menjadi bahan pembicaraan dimana-mana. Jadi, Silahkan dibaca ya
guys! ;)
Contoh Kasus Pertemuan ke-3
(Pilkada Langsung Vs. Pilkada
TIdak Langsung)

Sekarang
ini, sedang hangat diperbincangkan – lebih tepatnya “Diperdebatkan” sih –
tentang pemilihan kepala daerah yang ingin dilakukan secara tidak langsung dengan
melalui DPR. Hal ini tentu menimbulkan reaksi yang beragam dari rakyat maupun
pejabat. Banyak yang menentang Pilkada tidak langsung karena hal ini adalah
sebuah kemunduran Demokrasi dan mengancam hak rakyat untuk memilih pemimpin
mereka. Tetapi, ada juga yang mendukung dengan alasan untuk menghemat biaya. Nah,
dari sekian banyak pendapat, keyakinan, dan reaksi yang beredar di luar…
Manakah yang “Benar”?
Berikut
saya akan meberikan argumentasi yang sesuai dengan Metode-metode dan
Teori-teori yang telah kita bahas sebelumnya.
Pendapat:
Tidak Setuju dengan Pilkada tidak langsung.
Tidak Setuju dengan Pilkada tidak langsung.
Pendekatan:
Empirisme (Berdasarkan Pengalaman)
Kalau
ditinjau dari metode Empirisme, berarti kita harus melihat kebelakang dan
meneliti dari pengalaman-pengalaman yang sudah pernah kita lalui bersama.
Kenyataannya, selama ini kita selalu dikecewakan dengan performa DPR yang jarang
sekali melaksanakan tugas mereka yaitu Menyuarakan
suara rakyat dan itu terjadi bukan hanya setahun dua tahun, melainkan
bertahun-tahun sehingga mengikis kepercayaan kita terhadap yang namanya DPR. Sederhana
saja, sampai sekarang sudah berapa banyak anggota DPR yang terjerat kasus
korupsi yang artinya DPR telah melanggar tugas mereka untuk melayani rakyat. Memang
akhir-akhir ini terlihat ada sedikit kemajuan di dalam DPR, tetapi kemajuan
kecil tersebut belum cukup untuk dapat membuat rakyat memberikan kepercayaan
penuh bagi DPR untuk memilih kepala daerah.
Sifat Kebenaran:
Kritis: Dengan adanya Pilkada langsung, hak rakyat untuk memilih seorang pemimpin telah terpenuhi, lalu jika tidak ada Pilkada langsung bagaimana cara rakyat mendapatkan hak nya tersebut? Raknyat akan merasa bahwa hak mereka telah direnggut dari mereka.
Normatif: Pilkada langsung telah di atur dalam Undang-Undang yang artinya Pilkada langsung sudah sah dan sesuai dengan semua norma yang ada.
Evaluatif: Pilkada langsung setiap tahunnya mengalami perbaikan dan terlihat kemajuan yang signifikan dalam pelaksanaannya dan hasil dari pilkada langsung pun dapat dilihat dengan jelas dengan munculnya pemimpin daerah yang mampu mengurus dan mengembangkan daerah mereka masing-masing. Oleh sebab itu, meskipun masih ada kekurangan dalam beberapa bidang, tidak seharusnya kita mengganti Pilkada langsung melainkan memperbaiki dan mengevaluasinya agar dapat lebih efektif kedepannya.
Teori Kebenaran:
Korespondensi : Subjek
yakin terhadap objek dan sesuai dengan kenyataan.
Saya sebagai rakyat, sebagai
subjek sekarang ini meyakini bahwa kinerja DPR belum cukup baik untuk dapat
memilih kepala daerah bagi rakyat dan kenyataannya memang kinerja DPR pada saat
ini sering kali mengecewakan dengan banyaknya anggota DPR yang terjerat kasus
korupsi dll.
Koherensi : Kesesuaian
pendapat dari beberapa subjek dengan kenyataan objek.
Kalau
tadi saya berbicara mengenai “Saya” yang belum yakin terhadap kinerja DPR, maka
untuk Teori Koherensi ini, kita tinggal melihat kenyataan di masyarakat bahwa
sebagian besar rakyat dan bahkan para kepala daerah sendiri pun menolak dengan
adanya pemilihan tidak langsung.
Pragmatik :
Benar apabila sesuatu ada kegunaannya.
Dilihat
dari segi kegunaan, pemilihan langsung yang telah berjalan selama ini
memberikan rakyat kebebasan untuk memilih dan sangat berguna untuk rakyat
karena dengan adanya Pilkada langsung raknyat menjadi dapat berpartisipasi
dalam kagiatan politik, tidak seperti zaman orde lama dan orde baru. Dan tentunya
masih banyak kegunaan Pilkada langsung ini yang tidak akan muat bila disebutkan
semuanya.
Konsensus :
Adanya Kesepakatan yang didasari oleh alasan tertentu.
Pilkada
langsung ini telah disepakati bersama oleh pemerintah maupun rakyat semenjak
Pilkada langsung pertama kali dilaksanakan. Tentu kesepakata untuk melaksanakan
Pilkada langsung ini dari awal telah dipikirkan secara matang dan dilandasi
oleh dasar-dasar yang kuat seperti; memberikan kebebasan bagi rakyat, memenuhi
hak rakyat seperti yang diatur dalam undang-undang, dan sebagainya. Oleh karena
itu, jika Pilkada TIDAK LANGSUNG dilaksanakan maka TIDAK akan terjadi
kesepakatan antara pemerintah dengan rakyat karena hanya pemerintah yang
menginginkan Pilkada tidak langsung.
Semantik :
Memahami dengan tepat arti suatu kata.
Seperti
yang tertulis di UU pasal 1 ayat 2 bahwa kedaulatan berada ditangan Rakyat,
maka dapat kita pahami bersama bahwa kedaulatan itu sendiri adanya di tangan
rakyat dan bukan berada di tangan perwakilan rakyat manapun. Dengan pemahaman
terhadap kata-kata yang ada pada Undang-Undang ini maka dapat disimpulkan bahwa
Pilkada langsung lah yang seharusnya kita laksanakan.
Kesimpulan:
Dari analisis yang telah saya lakukan dengan sistematis dan sesuai dengan Metode dan Teori yang telah saya pelajari, pada dasarnya “Pilkada Langsung” adalah sebuah KEBENARAN. Maka, dengan ini saya mendukung Pilkada langsung untuk tetap dilaksanakan.
Dari analisis yang telah saya lakukan dengan sistematis dan sesuai dengan Metode dan Teori yang telah saya pelajari, pada dasarnya “Pilkada Langsung” adalah sebuah KEBENARAN. Maka, dengan ini saya mendukung Pilkada langsung untuk tetap dilaksanakan.
setuju banget nih sama michael (y)
ReplyDeleteThanks jel! hahaaha
Deleteasik dehhh contoh kasusnya dijelasin dengan komplit... (y)
ReplyDeleteoh harus dooonggg hahahaha
Deletedede mikel blognya kok bagus banget ya :") gua kasi nilai 90 deh!
ReplyDeleteMakasih ya jeaaann Hahahaa
DeleteLengkap banget. 90 buat lu mike :D
ReplyDeleteBeeeeehhh vania murah hatiii hahahaha Thanks van!
DeleteKerenlah blog ini, 95!:D
ReplyDelete