Hey there everyone!
Hari ini adalah pertemuan ke-3 saya dalam blok filsafat dan saya
mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan yang saya rasa akan berguna bagi
saya kedepannya. Seperti biasa, materi hari ini juga tidak dapat dibilang mudah
untuk dicerna, tetapi juga bukan tidak mungkin untuk dapat dimengerti. Dosen
yang mengajar hari ini juga tidak membosankan sehingga saya mampu mengikuti
pelajaran tanpa tertidur di dalam kelas. Hahahaha
Materi yang dibahas di pertemuan ke-3 ini adalah berupa pembahasan yang
lebih mendalam mengenai apa itu “Kebenaran”
dan juga “Pendekatan-pendekatan”
yang kita gunakan untuk memperoleh suatu kebenaran. Selain itu, saya juga
mempelajari satu lagi pencabangan dari ilmu filsafat yaitu; Epistemologi
Sepanjang hidup kita, kita tentu ingin mencari dan melakukan hal-hal
yang benar menurut kita. Oleh karena itu lah, pelajaran hari ini benar-benar
penting bagi saya karena dengan mengerti lebih jauh tentang apa itu Kebenara,
maka saya juga kan lebih mengerti tentang apa yang seharusnya dan tidak
seharusnya saya lakukan. Tapi, pertanyaannya adalah, apakah sebenarnya
kebenaran itu? Dan bagaimana cara kita tahu mana yang benar dan mana yang
tidak?
Pertanyaan-pertanyaan itu telah dijawab dengan penjelasan dari dosen
saya tadi.
Nah, sekarang saya akan membagikan sedikit dari apa yang berhasil saya
pahami mengenai pelajaran hari ini. Yang pertama adalah salah satu cabang dari
ilmu Filsafat yaitu;
Epistemologi
(Episteme=Pengetahuan
, logos=Ilmu)
Epistemologis merupakan
suatu cabang ilmu yang mempelajari tentang dasar-dasar dari suatu ilmu dan
kaitannya dengan kebenaran. Jadi, epistemology berbicara mengenai dari mana
suatu ilmu diperoleh, kesesuaian ilmu tersebut dengan kenyataan,
pertanggungjawaban dari ilmu tersebut,dll. Dengan mempelajari cabang ilmu ini,
maka kita akan memperoleh pengertian yang lebih mendalam dari sebuah ilmu
karena kita akan tahu dari mana dan bagaimana ilmu tersebut diperoleh.
Kadang-kadang saat saya mempelajari sebuah ilmu pengetahuan yang baru,
saya sering bertanya-tanya tentang kenapa bisa begini? Kenapa bisa begitu? Tetapi,
jawaban yang saya peroleh selalu saja ‘Ya emang begitu!” tanpa adanya penjelasa
tentang bagaimana suatu kebenaran dalam ilmu tersebut dapat terjadi. Di dalam epistemology
ini saya akhirnya mampu mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya
yang sudah lama saya simpan.
Di dalam Epistemologis
sendiri diajarkan beberapa pendekatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan,
yaitu;
1. Pendekatan Empirisme
Merupakan sebuah metode untuk memperoleh ilmu pengetahuan melalui
pengalaman yang dialami oleh manusia itu sendiri. Jadi, dari apa yang bisa saya
tangkap adalah, untuk memperoleh suatu pengetahuan, kita harus sudah mengalami
apa yang ingin kita bahas dalam ilmu tersebut. Contohnya, di saat Albert
Einstein menemukan teori gravitasi, ia sudah mengalami pengalaman yang
berkaitan soal itu, yaitu di saat sebuah apel jatuh mengenai kepalanya.
Seorang tokoh yang berperan penting dalam metode ini adalah John Locke.
Beliau mengemukakan sebuah teori “Tabula
Rasa” yang mengatakan bahwa manusia lahir bagaikan sebuah kertas putih, dan
dengan adanya pengalaman-pengalaman dalam hidup manusia kertas putih tersebut
mulai terisi dengan pengalaman-pengalaman yang sudah kita lalui.
2. Pendekatan Rasionalisme
Berbeda dengan metode Empirisme
yang saya jelaskan di atas, Metode rasionalisme menyatakan bahwa ilmu
pengetahuan dan kebenaran hanya dapat diperoleh melalui akal kita. Jadi, intinya
apa yang benar dan apa yang tidak benar itu semua terletak di dalam akal budi
kita. Jika kita menganggap suatu hal itu
salah, belum tentu objeknya itu yang salah, karena kebenaran dan ilmu
pengetahuan itu terletak di akal budi dan bukan pada benda / objek.

3. Pendekatan Fenomenalisme
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang mengatakan bahwa kebenaran itu
dilihat dari gejala-gejala yang ada saat ini. Misalnya saja, saat kita
mengalami gangguan kesehatan seperti hidung tersumbat, kita akan tahu bahwa
kita akan terkena flu jika tidak diobati secara tepat. Nah, hidung tersumbat
hanyalah gejala dari apa yang sebenarnya akan terjadi yaitu “Flu”.
Tokoh yang juga merupakan Bapak dari Pendekatan Fenomenalisme ialah Immanuel Kant.

Beliau berpendapat bahwa para penganut empirisme benar bila berpendapat
bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk
sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan
bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
Pendekatan-pendekatan yang saya jelaskan di atas mungkin sudah sering
kita gunakan saat kita ingin memberikan suatu argumen tentang suatu masalah.
Namun, kita sering kali tidak menyadari pendekatan apa yang kita gunakan. Setelah
saya mempelajari dan memahami metode-metode ini, saya merasa bahwa saya akan
mampu menganalisis atau memberi argumentasi dengan lebih teliti dan tentunya
lebih sistematis. Ini hanya merupakan salah satu dari sekian banyak hal yang saya
pelajari dari mata kuliah Filsafat
yang akan sangat membantu kita dalam kehidupan.
Setelah mengetahui metode-metode dalam Epistemologis, sekarang saya akan membicarakan tentang Teori-teori Kebenaran. Ada beberapa
teori tentang kebenaran, antara lain:
1. Teori Korespondensi: Kebenaran akan terjadi apabila subjek yakin
akan sesuatu tentang objek, dan keyakinan itu sesuai dengan kenyataan.
Cth: Saya yakin bahwa gula
rasanya manis, dan kenyataannya gula memang manis.
2. Teori Koherensi: Kebenaran akan terjadi
apabila ada kesesuaian pendapat antara beberapa subjek dengan kenyataan objek.
Cth: Beberapa dosen tahu
bahwa saya pintar dan memang kenyataannya saya
pintar. #Membanggakan diri sendiri gapapa dong ya???
3. Teori Pragmatik:
Kebenaran itu adalah disaat sesuatu memiliki kegunaan.
Cth: Cermin berguna untuk
berkaca.
4. Teori Konsensus: Kebenaran terjadi apabila
adanya suatu kesepakatan yang disertai alasan tertentu.
Cth: Dosen dan mahasiswa sepakat
untuk mengganti nama “Pulpen” dengan nama “Permen” demi memudahkan mahasiswa
untuk mengerti teori konsensus.
5. Teori Semantik: kebenaran akan terjadi apabila
orang mengetahui dengan tepat tentang arti suatu kata
Cth: Dosen
memahami dengan benar dan tepat tentang skripsi yang dibuat oleh mahasiswanya.
Teori-teori tentang kebenaran ini membuat saya sadar kalau
hal yang selama ini saya piker saya sudah mengerti yaitu “Kebenaran” pun
ternyata masih sangaat luas pengertiannya di dalam filsafat. Hal ini
benar-benar menunjukkan bahwa filsafat adalah ilmu yang sangat luas cakupannya.
Untuk Teori-teori dan metode-metode yang telah saya jelaskan
diatas akan saya perjelas melalui contoh kasus yang faktual dan Up to date pada postingan selanjutnya.
Semoga informasi yang saya bagikan kali ini dapat berguna bagi kita semua J
#Quote: If you tell the truth, you don’t have
to remember anything. – Mark Twain
perlu banget nih belajar teori kebenaran supaya benar-benar benar. *if you know what i mean xD
ReplyDeleteI know what you mean hahahhaa
ReplyDeletekeceeee 90 mikeee
ReplyDeletePenjelasannya lengkap, ada gambarnya lagi. Keren 95 yaa ahaha ditunggu postingan berikutnya mike!
ReplyDelete