Background

Thursday, September 18, 2014

Pertemuan 3 (18 September 2014)

Hey there everyone!

Hari ini adalah pertemuan ke-3 saya dalam blok filsafat dan saya mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan yang saya rasa akan berguna bagi saya kedepannya. Seperti biasa, materi hari ini juga tidak dapat dibilang mudah untuk dicerna, tetapi juga bukan tidak mungkin untuk dapat dimengerti. Dosen yang mengajar hari ini juga tidak membosankan sehingga saya mampu mengikuti pelajaran tanpa tertidur di dalam kelas. Hahahaha

Materi yang dibahas di pertemuan ke-3 ini adalah berupa pembahasan yang lebih mendalam mengenai apa itu “Kebenaran” dan juga “Pendekatan-pendekatan” yang kita gunakan untuk memperoleh suatu kebenaran. Selain itu, saya juga mempelajari satu lagi pencabangan dari ilmu filsafat yaitu; Epistemologi

Sepanjang hidup kita, kita tentu ingin mencari dan melakukan hal-hal yang benar menurut kita. Oleh karena itu lah, pelajaran hari ini benar-benar penting bagi saya karena dengan mengerti lebih jauh tentang apa itu Kebenara, maka saya juga kan lebih mengerti tentang apa yang seharusnya dan tidak seharusnya saya lakukan. Tapi, pertanyaannya adalah, apakah sebenarnya kebenaran itu? Dan bagaimana cara kita tahu mana yang benar dan mana yang tidak?
Pertanyaan-pertanyaan itu telah dijawab dengan penjelasan dari dosen saya tadi.

Nah, sekarang saya akan membagikan sedikit dari apa yang berhasil saya pahami mengenai pelajaran hari ini. Yang pertama adalah salah satu cabang dari ilmu Filsafat yaitu;



Epistemologi
(Episteme=Pengetahuan , logos=Ilmu)

Epistemologis merupakan suatu cabang ilmu yang mempelajari tentang dasar-dasar dari suatu ilmu dan kaitannya dengan kebenaran. Jadi, epistemology berbicara mengenai dari mana suatu ilmu diperoleh, kesesuaian ilmu tersebut dengan kenyataan, pertanggungjawaban dari ilmu tersebut,dll. Dengan mempelajari cabang ilmu ini, maka kita akan memperoleh pengertian yang lebih mendalam dari sebuah ilmu karena kita akan tahu dari mana dan bagaimana ilmu tersebut diperoleh.

Kadang-kadang saat saya mempelajari sebuah ilmu pengetahuan yang baru, saya sering bertanya-tanya tentang kenapa bisa begini? Kenapa bisa begitu? Tetapi, jawaban yang saya peroleh selalu saja ‘Ya emang begitu!” tanpa adanya penjelasa tentang bagaimana suatu kebenaran dalam ilmu tersebut dapat terjadi. Di dalam epistemology ini saya akhirnya mampu mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya yang sudah lama saya simpan.

Di dalam Epistemologis sendiri diajarkan beberapa pendekatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, yaitu;

      1. Pendekatan Empirisme
Merupakan sebuah metode untuk memperoleh ilmu pengetahuan melalui pengalaman yang dialami oleh manusia itu sendiri. Jadi, dari apa yang bisa saya tangkap adalah, untuk memperoleh suatu pengetahuan, kita harus sudah mengalami apa yang ingin kita bahas dalam ilmu tersebut. Contohnya, di saat Albert Einstein menemukan teori gravitasi, ia sudah mengalami pengalaman yang berkaitan soal itu, yaitu di saat sebuah apel jatuh mengenai kepalanya.

Seorang tokoh yang berperan penting dalam metode ini adalah John Locke.



Beliau mengemukakan sebuah teori “Tabula Rasa” yang mengatakan bahwa manusia lahir bagaikan sebuah kertas putih, dan dengan adanya pengalaman-pengalaman dalam hidup manusia kertas putih tersebut mulai terisi dengan pengalaman-pengalaman yang sudah kita lalui.

      2.  Pendekatan Rasionalisme
Berbeda dengan metode Empirisme yang saya jelaskan di atas, Metode rasionalisme menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dan kebenaran hanya dapat diperoleh melalui akal kita. Jadi, intinya apa yang benar dan apa yang tidak benar itu semua terletak di dalam akal budi kita. Jika kita menganggap  suatu hal itu salah, belum tentu objeknya itu yang salah, karena kebenaran dan ilmu pengetahuan itu terletak di akal budi dan bukan pada benda / objek.



      3.  Pendekatan Fenomenalisme
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang mengatakan bahwa kebenaran itu dilihat dari gejala-gejala yang ada saat ini. Misalnya saja, saat kita mengalami gangguan kesehatan seperti hidung tersumbat, kita akan tahu bahwa kita akan terkena flu jika tidak diobati secara tepat. Nah, hidung tersumbat hanyalah gejala dari apa yang sebenarnya akan terjadi yaitu “Flu”.

Tokoh yang juga merupakan Bapak dari Pendekatan Fenomenalisme ialah Immanuel Kant.


Beliau berpendapat bahwa para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.

Pendekatan-pendekatan yang saya jelaskan di atas mungkin sudah sering kita gunakan saat kita ingin memberikan suatu argumen tentang suatu masalah. Namun, kita sering kali tidak menyadari pendekatan apa yang kita gunakan. Setelah saya mempelajari dan memahami metode-metode ini, saya merasa bahwa saya akan mampu menganalisis atau memberi argumentasi dengan lebih teliti dan tentunya lebih sistematis. Ini hanya merupakan salah satu dari sekian banyak hal yang saya pelajari dari mata kuliah Filsafat yang akan sangat membantu kita dalam kehidupan.

Setelah mengetahui metode-metode dalam Epistemologis, sekarang saya akan membicarakan tentang Teori-teori Kebenaran. Ada beberapa teori tentang kebenaran, antara lain:

      1. Teori Korespondensi:  Kebenaran akan terjadi apabila subjek yakin akan sesuatu tentang objek, dan keyakinan itu sesuai dengan kenyataan.
Cth: Saya yakin bahwa gula rasanya manis, dan kenyataannya gula memang manis.

      2. Teori Koherensi: Kebenaran akan terjadi apabila ada kesesuaian pendapat antara beberapa subjek dengan kenyataan objek.
Cth: Beberapa dosen tahu bahwa saya pintar dan memang kenyataannya saya  pintar. #Membanggakan diri sendiri gapapa dong ya???

      3.  Teori Pragmatik: Kebenaran itu adalah disaat sesuatu memiliki kegunaan.
Cth: Cermin berguna untuk berkaca.

      4.  Teori Konsensus: Kebenaran terjadi apabila adanya suatu kesepakatan yang disertai alasan tertentu.
Cth: Dosen dan mahasiswa sepakat untuk mengganti nama “Pulpen” dengan nama “Permen” demi memudahkan mahasiswa untuk mengerti teori konsensus.

      5. Teori Semantik: kebenaran akan terjadi apabila orang mengetahui dengan tepat tentang arti suatu kata
Cth: Dosen memahami dengan benar dan tepat tentang skripsi yang dibuat oleh mahasiswanya.

Teori-teori tentang kebenaran ini membuat saya sadar kalau hal yang selama ini saya piker saya sudah mengerti yaitu “Kebenaran” pun ternyata masih sangaat luas pengertiannya di dalam filsafat. Hal ini benar-benar menunjukkan bahwa filsafat adalah ilmu yang sangat luas cakupannya.
Untuk Teori-teori dan metode-metode yang telah saya jelaskan diatas akan saya perjelas melalui contoh kasus yang faktual dan Up to date pada postingan selanjutnya. Semoga informasi yang saya bagikan kali ini dapat berguna bagi kita semua J


#Quote: If you tell the truth, you don’t have to remember anything. – Mark Twain

4 comments:

  1. perlu banget nih belajar teori kebenaran supaya benar-benar benar. *if you know what i mean xD

    ReplyDelete
  2. Penjelasannya lengkap, ada gambarnya lagi. Keren 95 yaa ahaha ditunggu postingan berikutnya mike!

    ReplyDelete